BERBEDA dari ahli ekonomi politik pada zamannya, Karl Marx menempatkan
komoditi sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dibahas, sebelum mengurai
soal-soal penting lainnya seperti sewa, tanah, tenaga kerja, nilai lebih,
krisis, tendensi jatuhnya tingkat keuntungan, dsb. Karena itu, dalam Capital,
Marx memulai karya besarnya itu dengan membahas Komoditi. Bahkan bisa
dibilang, Capital tidak lain adalah teori tentang komoditi
(Albritton, 2007: 23).
Tentu pilihan ini bukan tanpa alasan. Kata Marx, kemakmuran sebuah
masyarakat di mana corak produksi kapitalis (capitalist mode of production)
muncul, menampakkan dirinya dalam wujud ‘an immense collection of
commodities/tumpukkan komoditi yang sangat banyak.’ Atas dasar ini, katanya,
‘investigasi kami harus dimulai dengan menganalisis apa itu komoditi.’ Tetapi,
mengapa harus mulai dengan topik produksi komoditi?
Di sini, kita mesti berurusan dengan metodologi Marx, dan karena itu saya
mengajak Anda kembali sejenak keGrundrisse, karya Marx yang banyak
berbicara tentang metode berpikirnya. Pada buku yang mendahului Capital itu,
Marx mengatakan, ia ingin membuat satu kajian yang bertolak dari realitas
menuju buku teks. Menurutnya, yang terjadi selama ini, kajian selalu bertolak
dari buku teks menuju realitas, sehingga tugas dialektika menjadi mencari
keseimbangan dalam konsep, bukan dialektika yang muncul dari relasi yang nyata
(Marx, 1993: 90). Berdasarkan itu, ekonom-cum-filsuf Rusia I.I. Rubin
mengatakan, ciri khas pemikiran Marx selalu berusaha melampaui apa yang tampak
dari luar (outward appearance), atau yang sekadar menunjukkan hubungan
eksternal (external connection), atau bahkan yang hanya berupa fenomena
permukaan (surface of phenomena), untuk kemudian menuju pada sesuatu
yang berkaitan dengan hubungan internal (internal connection), hubungan
yang bersifat imanen (immanent connection), atau menelisik pada esensi
benda-benda (the essence of things) (1990: 26). Lenin menyebut metode
presentasi ini sebagai proses ‘from living perception to abstract thought’
(Lebowitz, 2009: 195).
Dengan metode presentasi seperti itu, Martin Nicolaus mengatakan
bahwa Marx membuka Capital dengan membahas soal produksi
komoditi, sebagai tanda perpisahan terakhirnya dengan Logic karya
Hegel dan juga karya-karya dia sebelumnya, yang senantiasa bertolak dari
sesuatu yang murni, tetap, abadi, dan abstrak universal. Dengan memulai
dari komoditi, Marx menegaskan posisi teoritiknya bahwa sesuatu itu harus
bermula dari yang konkret, material, yang bisa disentuh oleh indera, dan
spesifik secara historis; dan yang di dalamnya (kesatuan) menjadi kunci
antitesis (nilai guna vs nilai tukar), yang perkembangannya melibatkan seluruh
kontradiksi lainnya dalam corak produksi ini (Nicolaus in Marx,
1993: 38). Ditambahkan Tony Smith, teorisasi Marx dimulai dari apa yang disebut
‘method of inquiry,’ yakni studi yang sangat dekat terhadap obyek yang sedang
diinvestigasi serta teori-teori yang mendahuluinya. Sementara, mengutip
Marx, ‘Hegel jatuh ke dalam ilusi karena memahami yang riil sebagai
produk dari pikiran yang mengkonsentrasi dirinya sendiri, menyelidiki kedalaman
dirinya, dan mengungkap dirinya dari dirinya sendiri, oleh dirinya’
(Smith in Moseley, 1993: 16).[1] Dan
sebagai gantinya, Marx kembali jauh ke belakang kepada Aristoteles
sebagai rujukan metodologisnya. Marx, mengikuti Aristoteles, senantiasa memulai
segala sesuatunya dari penampakkan luarnya untuk kemudian menelisik hingga
atribut-atribut esensialnya. Dalam pengertian ini, Marx adalah seorang
Aristotelian esensialis (Pack, 2010: 111).
Bagi ekonom M.C. Howard dan J.E. King, ada tiga alasan Marx memulai
pembahasannya dengan topik produksi komoditi: pertama, dalam
kapitalismelah bentuk umum dari komoditi memperoleh perkembangannya yang
tertinggi;kedua, Marx berpendapat bahwa banyak gambaran kunci dari
kapitalisme sebenarnya berkembang dari bentuk-bentuk produksi komoditi
pra-kapitalis; dan ketiga – ini yang terpenting – Marx percaya
bahwa aspek-aspek kapitalisme secara analitis berkembang pesat di luar, dan
bahkan bertentangan dengan produksi komoditi pra-kapitalis (Howard & King,
1985: 56). Sedangkan menurut Harry Cleaver, dalam bukunya Reading
Capital Politically,alasan mengapa Marx memulai kajiannya tentang komoditi,
karena ‘komoditi merupakan bentuk yang paling fundamental dari kapital.’ ‘Dan
jika kita membaca bagian Capital sesudahnya,’ demikian
Cleaver, ‘maka kita akan menemukan kejelasan mengapa kemakmuran dalam
masyarakat borjuis, menampakkan dirinya dalam wujud komoditi,’ (Cleaver, 2000:
81).
Penjelasan lain dikemukakan Stephen Saphiro. Menurutnya, pertama-tama seharusnya
kita memperhatikan kalimat Marx dalam paragraf pembuka bab I, yang
berbunyi: ‘[t]he wealth of societies in which the capitalist mode of
production prevails appears….’ Dengan menggunakan frasa ‘the
wealth of society,’ demikian Shapiro, Marx dengan sengaja mengganti
frasa yang digunakan Adam Smith ‘the wealth of nations,’ sekaligus
menunjukkan bahwa asumsi dasar dari kalangan pembela pasar bebas adalah keliru.
Bagi Marx, soal paling mendesak dan utama dari masyarakat kapitalis adalah
bagaimana mencetak untung, bukan membangun hubungan antara negara-bangsa dan
pasar; Kedua,dengan demikian konsekuensinya adalah bersifat
historis. Melalui frasa ‘in which the capitalist mode of production
prevails,’ Marx memaksudkan bahwa ia tidak menulis keadaan masyarakat
secara umum. Sebaliknya, ia hanya ingin fokus pada masyarakat di mana praktek
ekonomi kapitalis tampil dominan, yakni masyarakat kapitalis. Ia ingin
menunjukkan kepada pembacanya, perbedaan mendasar antara corak produksi
kapitalis dengan corak produksi lama, dan bagaimana kita mengubah cara kerja
produksi kapitalis tersebut dan selanjutnya keluar dari kerusakan yang
disebabkan oleh kapitalisme. Jika kita belajar apa yang menyebabkan kapitalisme
itu unik dan bagaimana ia mulai bekerja, maka kita bisa berpikir tentang
bagaimana cara mengakhirinya.
Ketiga, sebagai ikutan dari dua hal di atas adalah memahami transformasi sejarah
masyarakat kapitalis menjadi masyarakat non-kapitalis. Sepintas kita bisa
melihat apa yang menyebabkan masyarakat kapitalis berbeda, karena mereka
menciptakan ‘immense collection of commodities.’ Tentu saja kita
tak harus menjadi seorang ekonom untuk mengetahui bahwa transaksi barang telah
bertumbuh berkali lipat di banding corak produksi sebelumnya. Tetapi, yang
menjadi perhatian utama Marx dalam Capital, adalah ‘mengapa dan
bagaimana mereka memproduksi barang, ketimbang mengapa dan bagaimana rakyat
mengkonsumsi barang tersebut.’ Inilah perbedaan asasi antara Marx dan ekonom
liberal, khususnya Adam Smith (Shapiro, 2008: 2-3; Nicolaus in Marx, op.cit).
Perbedaan mendasar antara Marx dan ekonom arus utama (mainstream)
ini, dijelaskan lebih lanjut oleh ekonom Ben Fine dan Alfredo Saad-Filho: Bagi
ekonom mainstream, karena ekonomi berurusan dengan kebutuhan akan
konsumsi, maka perhatian utama ilmu ekonomi berkaitan dengan pertanyaan
bagaimana mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi
kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Dari sudut pandang ini, maka ekonomi
lantas diorganisasikan melalui mekanisme pasar, negara, rumah tangga, atau
boleh jadi perbudakan. Dan seperti yang kita ketahui, kalangan ini percaya
bahwa semakin pasar dibiarkan beroperasi secara independen, maka alokasi barang-barang
akan semakin efisien.
Sebaliknya, menurut Marx, hubungan masyarakat, khususnya hubungan kelas,
adalah esensial dalam membedakan bentuk ekonomi yang satu dengan bentuk ekonomi
yang lain, juga perbedaan di dalam satu sistem ekonomi itu sendiri. Ini
melibatkan tidak hanya hubungan kepemilikan dan distribusi yang menentukan
corak produksi, siapa yang memiliki apa dan mengapa, tapi juga bagaimana
kepemilikan itu diorganisasikan dan kemudian muncul dalam bentuk kontrol atas
kerja dan hasil kerja (produk), serta aspek-aspek organisasi sosial lainnya.
Dalam makna ini, sektor produksi menjadi penting, karena secara sederhana bisa
dikatakan, tanpa produksi tak akan ada pertukaran dan jika manusia berhenti
bekerja atau berproduksi maka tidak akan ada masyarakat yang bisa bertahan
dalam hitungan minggu. Dalam kaitan inilah, produksi komoditi menjadi gambaran
paling krusial dari kapitalisme (Fine and Saad-Filho, 2004: 16).
Tetapi, penekanan pada hubungan produksi tidak berarti pengabaian terhadap
hubungan pertukaran. Menurut Lebowitz, dalam Capital, Marx
terus-menerus mendeskripsikan bahwa kapital (capital) merupakan kesatuan
antara produksi dan sirkulasi dan juga perkembangan kapital
sebagai kesatuan yang bersifat dialektik (Lebowitz, op.cit: 104,
huruf miring dari Lebowitz). Kesatuan antara elemen produksi dan sirkulasi ini
tampak jelas dalam Grundrisse, di mana Marx mengajukan empat
momen yang tak terpisahkan: (1) produksi; (2) distribusi; (3) pertukaran; dan
(4) konsumsi. Dalam produksi, anggota masyarakat menciptakan atau membentuk
produk alamiah yang sesuai dengan kebutuhannya; sementara distribusi menentukan
proporsi di mana individu membagi-bagi produk tersebut; dalam pertukaran,
produk-produk tertentu yang memenuhi keinginan individu itu dipindahkan porsinya
sesuai distribusi yang dibutuhkannya; dan akhirnya, dalam konsumsi, produk
menjadi obyek kepuasan, demi kepentingan diri individu tersebut. Marx
melanjutkan, produksi menciptakan obyek yang sesuai dengan kebutuhan yang ada;
distribusi membagi obyek tersebut menurut hukum-hukum sosial; pertukaran lebih
jauh lagi membawa keluar obyek yang telah dibagi-bagi tersebut agar sesuai
dengan kebutuhan individu; dan pada akhirnya konsumsi menyebabkan produk
tersebut melangkah ke luar dari gerak sosial dan menjadi obyek serta pelayan
langsung kebutuhan individual, demi untuk memuaskan konsumen, (op.cit:
88-9).
Singkatnya, demikian Marx, produksi adalah titik berangkat, konsumsi
menjadi kesimpulannya, sementara distribusi dan pertukaran adalah perantaranya,
yang mengandung dua makna, yakni distribusi ditentukan oleh masyarakat dan
pertukaran oleh individu. Dengan begini, distribusi menentukan hubungan sejauh
mana produk sampai ke tangan individu (jumlah); sementara pertukaran menentukan
produksi, sehingga pengalokasian porsi permintaan individual bisa sampai ke
tangannya melalui distribusi. Maka, ujar Marx lebih lanjut,
‘produksi, distribusi,
pertukaran dan konsumsi membentuk sebuah silogisme biasa; produksi adalah
keumuman, distribusi dan pertukaran adalah kekhususan, dan konsumsi adalah
keunikan, di mana keseluruhannya ini bergabung bersama’ (ibid: 89).[2]
***
Dengan latar belakang seperti itu, kini kita melangkah pada pertanyaan ‘apa
yang dimaksud dengan komoditi?’ Tetapi sebelum menjawab pertanyaan ini, saya
ingin memberikan satu pemahaman umum mengenai kekhasan produksi komoditi.
Kita mengetahui bahwa sepanjang sejarahnya, untuk bisa hidup maka manusia
pertama-tama harus makan. Dan untuk bisa memenuhi kebutuhannya untuk makan itu,
ada dua cara yang bisa ditempuh: pertama, kebutuhan tersebut
diperoleh melalui memproduksi langsung barang tersebut (produksi untuk
konsumsi) baik melalui cara berburu, mengumpul maupun bercocok tanam; dan
cara kedua, adalah memperoleh barang tersebut secara tidak
langsung, yakni melalui proses tawar-menawar (produksi untuk pertukaran).
Elemen kunci dari pertukaran ini adalah bahwa barang tersebut secara praktikal
dikontrol oleh pemiliknya sebagai agen yang bebas, di mana sang pemilik
ini berhak penuh terhadap barang tersebut, yakni hak untuk menjual dan
menguasai hasil penjualan tersebut termasuk keuntungannya. Produk yang eksis
dalam sistem kepemilikan dan pertukaran inilah yang disebut Marx sebagai
komoditi (Foley, 1986: 12; Albritton, 2007).
Dengan begitu, sistem di mana produksi diorganisasikan melalui mekanisme
pertukaran, disebut sebagai sistem produksi komoditi (commodity-producing
systems). Dalam Capital Marx menyebut sistem produksi
komoditi ini sebagai kapitalisme, sehingga dengan demikian studi Marx
dalam Capital berurusan dengan sistem produksi kapitalisme.
Kembali pada pertanyaan tadi, ‘apa yang dimaksud dengan komoditi?’
Pada jamannya, menurut Marx, istilah komoditi yang populer adalah yang
didefinisikan oleh para ekonom Inggris, sebagai ‘setiap benda yang dibutuhkan,
yang berguna untuk kelangsungan hidup,’ obyek kebutuhan manusia, atau alat
untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam pengertian yang luas. Singkatnya,
komoditi, menurut para ekonom itu, adalah ‘barang yang memiliki kegunaan.’
Komoditi dalam pengertian ini, misalnya, adalah sepatu, sandal, beras, mobil,
rumah, dsb yang kita bisa lihat dan temukan ketika kita pergi ke pasar.
Marx sendiri mengatakan, komoditi adalah (1) obyek yang berada di luar
kita; yang (2) bisa memenuhi kebutuhan manusia; di mana (3) padanya kerja
manusia melekat; dan (4) tidak dikonsumsi oleh produsernya tapi, oleh pihak
lain. Point (1) dan (2) dipungutnya dari para ekonom Inggris itu, sementara
point (3) dan (4) adalah penjabarannya lebih lanjut atas kekhususan produksi
komoditi dalam sistem kapitalisme.
Lebih lanjut dikatakannya, setiap benda yang berguna bisa dilihat dari dua
sudut pandang: kualitas dan kuantitas (Marx, 1990: 125). Dalam bukunya, A
Contribution To The Critique of Political Economy (selanjutnya
disebut Critique), Marx, meminjam konsepnya Aristoteles,
mengatakan, komoditi mengandung dua aspek, yakni aspek nilai-guna (use-values)
dan aspek nilai-tukar (exchange-values) (1989: 27). Aspek nilai-guna
inilah, yang disebut oleh para ekonom Inggris, sebagai ‘barang yang memiliki
kegunaan.’
Bagian ini akan fokus membahas kedua aspek komoditi ini, karena seringkali
terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan tentang-nilai guna dan nilai-tukar. Marx
sendiri sebenarnya ada menyebut istilah lain, yakni Nilai (Value) yang
merupakan bagian sangat penting dan kontroversial dari bab-bab pembuka Capital, dan
karena itu diskusi tentang Nilai ini akan saya lakukan secara terpisah pada
bagian bedua dari artikel ini.
Nilai-guna (Use-values)
Ketika mendiskusikan tentang nilai-guna, Marx mengatakan, setiap benda yang
berguna (the usefulness of a thing), pasti memiliki nilai-guna. Namun
demikian, kegunaan itu bukanlah sesuatu yang melayang di udara. Kegunaannya
ditentukan oleh sifat fisikal komoditi sehingga eksistensinya tidak bisa
dipisahkan dari komoditi. Dalam Critique, ia mengatakan, nilai-guna
sebagai salah satu aspek dari komoditi, bersesuaian dengan eksistensi fisikal
sebuah komoditi. Sebagai contoh, ujarnya, sebuah komoditi, katakanlah besi,
jagung atau berlian, sejauh itu merupakan benda material, memiliki nilai-guna,
merupakan sesuatu yang berguna.
Nilai-guna yang melekat pada sebuah komoditi, membuatnya berbeda dengan
komoditi yang lain. Sepasang sepatu memiliki nilai-guna yang berbeda dengan
nilai-guna sepasang sandal, meja, kursi, dsb. Di sini, kita berurusan dengan
aspek kualitatif sebuah benda. Misalnya, ketika musim hujan, kita lebih
membutuhkan payung ketimbang cincin berlian, dan sebaliknya ketika hendak ke
pesta, cincin berlian lebih berkualitas ketimbang sebuah payung. Atau sebuah
buku teks ilmiah sama bergunanya dengan roman picisan, karena keduanya
memuaskan kebutuhan pembacanya.
Dengan karakternya yang demikian, nilai-guna memiliki nilai, hanya ketika
ia digunakan dan direalisasikan dalam proses konsumsi. Sepasang sandal menjadi
tidak berguna, jika tidak digunakan oleh pemiliknya. Emas yang ada di toko emas
tidak ada gunanya, jika ia hanya dipajang di etalese toko tersebut. Namun,
sebuah karya seni lukis yang dipajang di galeri menjadi berguna bagi para
pencinta seni yang berkunjung ke galeri tersebut. Karena itu, nilai-guna ini
adalah substansi seluruh kekayaan, apapun bentuk sosial yang mungkin dari
kekayaan itu. Dengan demikian, walaupun nilai-guna melayani kebutuhan sosial,
dan eksis dalam kerangka kerja sosial, tetapi keberadaannya tidak
mengekspresikan hubungan sosial produksi. Pada setiap corak produksi,
nilai-guna sebuah benda senantiasa eksis. Dalam Critique, Marx,
mengatakan, nilai-guna independen dari kungkungan bentuk ekonomi, karena itu
aspek nilai-guna ini tidak mendapatkan perhatian serius dalam studi ekonomi
politik (1990: 28).
Nilai-tukar (Exchange-values)
Jika nilai-guna berurusan dengan masalah kualitas, maka nilai tukar
berkaitan dengan soal kuantitas. Misalnya, jika nilai-guna sebuah benda diukur
dari kegunaannya dan berakhir dengan konsumsi, maka nilai-tukar diukur dari
seberapa bisa benda tersebut dijual dan berakhir dengan pertukaran. Dalam Capital,
Marx, mengatakan, ‘Nilai-tukar pertama kali muncul sebagai hubungan
kuantitatif, proporsi, di mana nilai-guna satu benda dipertukarkan untuk
nilai-guna benda lainnya,’ (op.cit: 126).
Dengan demikian, sepasang sandal memiliki nilai-tukar sejauh ia bisa
dipertukarkan dengan benda lain. Semakin banyak jumlah sandal yang bisa dijual,
maka nilainya semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya. Namun, bila kita membeli
sebuah mobil, tidak dengan sendirinya mobil tersebut memiliki nilai-tukar. Jika
mobil yang kita beli itu hanya digunakan sendiri atau sekadar menghiasi garasi
besar di rumah kita, maka mobil tersebut hanya memiliki nilai-guna, tapi tidak
memiliki nilai-tukar. Mobil tersebut baru memiliki nilai-tukar ketika kita
menjualnya kepada pihak lain.
Dari sini, kita bisa mengatakan, nilai-tukar adalah sebuah proses yang tak
pernah berhenti. Karena itu, jika nilai-guna eksis dalam semua corak produksi
masyarakat, maka nilai-tukar keberadaannya menjadi penanda sebuah corak
produksi masyarakat tertentu. Pada corak produksi komunal purba, keberadaan
nilai-tukar tidak dikenal. Menurut Ernest Mandel (1970: 49) asal-usul
pertukaran ditemukan di luar unit masyarakat primitif seperti di komunitas yang
berpindah-pindah (horde), marga (klan) atau di suku (tribe).
Studi antropolog sosial Inggris, Audrey I. Richards, terhadap rakyat Bemba di
Rhodesia, menemukan, karena kondisi di wilayah itu begitu seragam, tidak
tersedia alasan rasional untuk membenarkan bahwa di wilayah tersebut telah ada
perdagangan barang antara satu komunitas dengan komunitas yang lain,
(Mandel, ibid)
Seiring dengan penemuan alat-alat kerja baru, masyarakat yang sudah mulai
hidup menetap, dan produksi barang telah melampaui konsumsi, pola-pola
pertukaran dalam masyarakat mulai dikenal. Bermula dalam wujud pemberian
hadiah, untuk kepentingan upacara keagamaan, meningkat menjadi pertukaran dalam
bentuk barter yang terselubung (silent barter), hingga menjadi
pertukaran yang kompleks dengan jangkauan tak terbatas, yakni pertukaran di
pasar yang impersonal.
Dengan demikian, kita temukan perbedaan lain antara nilai-guna dan
nilai-tukar. Pada yang pertama, seseorang memproduksi barang dimaksudkan untuk
memenuhi kebutuhannya sendiri atau kebutuhan komunitas di mana ia hidup. Pada
momen ini, menurut Mandel, produksi dan hasil produksi, kerja dan produk kerja
identik pada orang tersebut, dalam praktek maupun pikirannya. Tetapi, dalam
produksi komoditi, kesatuan ini hancur berkeping-keping. Produser komoditi
tidak lagi hidup secara langsung dari barang hasil kerjanya, sebaliknya, ia
hidup secara eksklusif dari kerjanya, (op.cit: 58).
Unity of Opposites (Kesatuan dalam Pertentangan)
Dalam masyarakat primitif, produksi secara esensial dikerjakan untuk
memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan individu, komunitas mereka yang besar
seperti marga atau suku atau untuk memenuhi kebutuhan komunitas kecil seperti
keluarga. Tetapi, dalam sistem masyarakat borjuis, nilai-guna bukan merupakan
tujuan akhir dari proses produksi. Nilai-guna tak lebih sebagai dasar bagi
terjadinya nilai-tukar.
Marx memberikan contoh menarik soal ini. Katanya, sebuah berlian yang
menempel di leher jenjang seorang gadis, yang berguna sebagai hiasan, tidak
bisa kita sebut sebagai komoditi. Berlian yang menempel di leher sang gadis,
yang membuatnya bertambah cantik, statusnya tetaplah sebagai berlian yang
memiliki nilai-guna. Dan seperti yang telah kita sitir di atas, bagi Marx,
sebuah komoditi pasti memiliki nilai-guna, tapi tidak setiap benda yang berguna
disebut komoditi. Dalam Capital ia menulis,
‘Sebuah benda bisa
memiliki nilai-guna, tanpa memiliki nilai….. Sebuah benda bisa berguna, dan
merupakan produk tenaga kerja manusia, tanpa harus menjadi komoditi. Ia yang
memenuhi kebutuhannya sendiri dengan barang-barang hasil produksinya sendiri
memang menciptakan nilai-guna, tapi bukan komoditi,’ (ibid: 131).[3]
Ini berarti, untuk mendapatkan status sebagai komoditi, sebuah barang yang
berguna harus memenuhi persyaratan tertentu. Lanjutan dari kutipan di atas
berbunyi, ‘guna memproduksi komoditi, seseorang tidak hanya memproduksi
nilai-guna, tapi nilai-guna buat yang lain, nilai-guna sosial (social
use-values). Di bagian lain dari Capital, Marx mengatakan,
‘Benda-benda yang
berguna menjadi komoditi hanya karena mereka merupakan produk dari kerja
individu privat yang bekerja bersama-sama secara independen, (ibid:
165).’[4]
Friedrich Engels menambahkan, sebuah produk disebut ‘secara khusus sebagai
komoditi karena adanya hubungan antara dua person atau dua komunitas yang
melekat pada benda atau produk tersebut, hubungan antara produsen dan konsumen
yang tidak lagi menyatu pada satu orang,’ (Howard & King, 1985: 44).
Menilik pernyataan ini, sebuah barang yang memiliki nilai-guna menjadi
komoditi jika ia memenuhi dua kriteria: (1) barang yang berguna itu diproduksi
oleh buruh bebas dalam pengertian ganda (bebas dari kungkungan tuannya
sekaligus bebas dari kepemilikan alat-alat produksi); (2) barang yang berguna
itu diproduksi untuk dipertukarkan. Dengan kata lain, komoditi adalah
nilai-guna sesuatu barang yang diproduksi oleh buruh untuk dipertukarkan. Tidak
berarti semua barang yang dipertukarkan, bahkan melalui pasar, bisa disebut
sebagai komoditi. Misalnya, barang hasil curian atau barang-barang bekas yang
kemudian dijual di pasar. Bagi Marx, kasus seperti itu bersifat insidental, ia
tidak memainkan peranan sentral dalam reproduksi sosial.
Tetapi, bagaimana ceritanya nilai-guna sebuah barang berkembang menjadi
nilai-tukar? Dalam Critique Marx menjawab, ketika si pemilik
merasa barang tersebut tidak lagi berguna bagi dirinya. Si A memiliki sepasang
sepatu yang kemudian dijualnya kepada si B. Pada diri si A, sepasang sepatu itu
tidak memiliki nilai-guna.
Dari ilustrasi ini, kita memperoleh pemaknaan baru tentang nilai-guna. Jika
sebelumnya Marx mengatakan bahwa nilai-guna sebuah barang terealisir hanya
ketika ia dikonsumsi, maka, di sini, Marx mengatakan, si pemilik komoditi
merasa komoditinya memiliki nilai-guna sejauh ia memiliki nilai-tukar. ‘Untuk
menjadi sebuah komoditi,’ ujar Marx dalam Capital, ‘sebuah produk
harus ditransfer kepada yang lain, di mana produk tersebut tetap memiliki
nilai-guna, melalui alat pertukaran,’ (op.cit: 131). Dalam Critique,
ia memberikan penjelasan lebih jernih soal ini, di mana ‘untuk menjadi sebuah
nilai-guna, komoditi harus menemukan kebutuhan tertentu untuk dipuaskan. Dengan
demikian, nilai-guna sebuah komoditi menjadi nilai-guna melalui mekanisme
pertukaran: mereka (komoditi) lepas dari tangan pemilik semula dan berpindah ke
tangan yang lain yang berfungsi sebagai barang konsumsi, melalui mekanisme
pertukaran’ (ibid: 42).
Jadi, bagi si pemilik, komoditinya memiliki nilai-guna justru ketika
komoditi itu berada di luar jangkauannya, yakni ketika komoditi itu memiliki
nilai-guna bagi yang lain. Pada diri pemiliknya, komoditi itu tidak lagi
memiliki nilai guna, nilai guna itu ia temukan pada komoditi yang dimiliki oleh
orang lain. Inilah kata Marx dalam Critique,
‘Nilai-tukar sebuah
komoditi tidak mewujud dalam nilai-guna komoditi itu sendiri. Tetapi, sebagai
pengejawantahan waktu kerja sosial universal, nilai-guna sebuah komoditi dibuat
berhubungan dengan nilai-guna komoditi lainnya. Dengan demikian, nilai-tukar
sebuah komoditi menjelmakan dirinya dalam nilai-guna komoditi lainnya’(ibid:
38).[5]
Tetapi, persoalan belum selesai. Kata Marx, nilai-guna dan nilai-tukar
sebuah komoditi bukan hanya dua aspek yang berbeda tapi juga kontradiktif. Di
sini, walaupun konsep nilai-guna dan nilai-tukar ini terinspirasi dari
Aristoteles, tapi ia menanggalkan logika formal Aristoteles dan menggunakan
logika materialisme-dialektik, khususnya hukum ‘Unity of Opposites.’ Dalam satu
komoditi melekat dua aspek yang menyatu sekaligus berkontradiksi: nilai-guna
dan nilai-tukar. Sebuah benda memiliki nilai-guna ketika ia dikonsumsi,
sementara nilai-tukar menjadi bermakna bukan karena ia digunakan, tapi karena
dipertukarkan. Pemahaman seperti ini tentu saja membingungkan. Sebab, untuk
memiliki nilai-guna sebuah benda harus dikonsumsi dan tidak dipertukarkan.
Sebaliknya, untuk memiliki nilai-tukar, sebuah benda tidak segera dikonsumsi
melainkan mesti dipertukarkan.
Situasi kontradiktif ini diselesaikan Marx dalam Critique (ibid:
44), bahwa hanya dalam proses pertukaranlah, baik aspek nilai-guna dan
nilai-tukar ini berevolusi sekaligus menemukan solusinya. Menurutnya, komoditi
sebelum dijual dan dikonsumsi, nilai-guna dan nilai-tukarnya masih bersifat
abstrak dan potensial. Sekali komoditi tersebut dijual, pertukaran untuk uang
(C – M), maka karakteristik nilai-tukar menjadi nyata. Tapi, dalam proses ini,
nilai-tukar tampil dalam bentuk uang, di mana ketika uang ini ditukar dengan
komoditi lainnya, yang berarti dikonsumsi (M – C), nilai-tukar tersebut
bermetamorfosis kembali ke dalam aspek nilai-guna. Seperti kata ekonom Martha
Campbell, ‘sejak pertukaran merealisasikan tujuan dari kedua belah pihak, itu
juga bermakna terealisasinya nilai guna dan nilai komoditi secara
berkelanjutan. Ini berarti pertukaran memuaskan kebutuhan-kebutuhan
tertentu individu, tapi hanya jika mereka terekspresi dalam pembayaran dengan
uang’(Campbell in Moseley, op.cit, p.141).
Di sinilah letak utama keunikan produksi komoditi dalam kapitalisme. Bahwa
komoditi tersebut diproduksi oleh buruh yang menjual tenaga kerjanya kepada si
kapitalis yang mengontrol proses produksi; di mana komoditi yang diproduksi itu
tidak dimiliki oleh buruh tapi oleh si kapitalis; dan pada akhirnya komoditi
yang diproduksi itu tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan langsung manusia,
tapi diproduksi untuk dipertukarkan di pasar. Inilah sebabnya mengapa komoditi
lebih tepat disebut sebagai hubungan (social relations) ketimbang
sebagai benda (thing) dalam pemahaman non-Marxis.
Teori Nilai
TEORI nilai Marx merupakan
salah satu teorinya yang paling rumit sekaligus paling kontroversial. Jika kita
bisa melewati diskusi mengenai teori ini dengan lancar, maka diskusi mengenai
topik-topik lainnya dalam Capital menjadi lebih mudah.
Teori nilai seringkali disebut
berbarengan sebagai Teori Nilai Kerja (TNK). Menariknya, Marx sendiri tidak
pernah menyebut teori nilai sebagai TNK. Sebutan ini pertama kalinya digunakan
para pengritiknya dari kalangan ekonom mainstream, seperti Eugen von
Böhm-Bawerk. Menjadi tambah populer ketika ekonom Marxist Rudolf
Hilferding, memberikan kritik atas kritiknya Böhm-Bawerk terhadap Marx
tersebut (Hiroyoshi, 2005:81).
TNK menjadi kontroversial,
karena posisinya yang sangat fundamental dalam bangunan teori ekonomi politik
Marx. Seperti dikemukakan Andrew Glyn, konsepsi tentang nilai, keuntungan, dan
eksploitasi (value, profit
and exploitation), merupakan salah satu dari tiga pilar utama
bangunan ekonomi Marxist. Dua pilar lainnya adalah teori tentang proses kerja (the
labour process) dan teori tentang akumulasi kapital dan
krisis (capital
accumulation and crises) (Glyn inEatwall
et.al, 1990:274-75). Hal senada dikemukakan Rubin (1990:xxix) bahwa teori
tentang pemujaan komoditi (commodity
fetishism) dan lebih khusus lagi TNK, merupakan basis dari
keseluruhan sistem ekonominya Marx. Lebih lanjut dikatakannya, hanya setelah
kita menemukan basis dari TNK, barulah kita bisa memahami apa yang Marx tulis
dalam bab pertama Capital Volume I (ibid:61). Mungkin ini
sebabnya, mengapa Fine dan Harris (1979:34) sampai mengatakan, ‘menolak TNK
sama artinya dengan menolak metode Marx.’
Karena posisinya yang sangat
fundamental itu, TNK menjadi sasaran empuk para pengritik teori ekonomi Marxis.
Di kalangan Marxis sendiri perdebatan mengenai teori ini tak kalah serunnya.
Namun demikian, tulisan ini tidak akan masuk pada kontroversi itu. Tujuan
tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana Marx menjabarkan teori nilai dan
melihat lebih jauh esensi dari teori ekonomi politik Marxis.[1]
***
Baik, mari kita mulai Kajian
ini dengan mengutip geografer David Harvey. Dalam salah satu buku
terkenalnya The Limits to Capital Harvey mengatakan, kita
tidak akan bisa menafsirkan apa itu nilai (value) tanpa terlebih dahulu memahami
pengertian tentang nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value).
Demikian sebaliknya, mustahil menafsirkan dua nilai terakhir tanpa memahami apa
itu nilai. Masih menurut Harvey, Marx tidak pernah memperlakukan masing-masing
konsep itu secara terisolasi, tapi senantiasa memfokuskan ketiganya dalam
sebuah relasi yang mungkin: antara nilai-guna dan nilai-tukar, antara
nilai-guna dan nilai, dan antara nilai-tukar dan nilai ((2006:2).
Kita ikuti perlahan maksud
Harvey ini. Dalam kapitalisme, tujuan utama dari produksi komoditi bukan untuk
memenuhi kebutuhan manusia secara langsung, melainkan untuk mengakumulai
keuntungan setinggi-tingginya tanpa henti melalui pasar. Melalui pasar itulah
orang lantas memenuhi kebutuhannya. Misalnya, ketika seorang kapitalis membuka
usaha restoran, tujuan utamanya bukanlah memberi makan orang yang belum makan,
melainkan menjual hasil masakannya itu kepada pembeli yang bisa membayar sesuai
harganya. Tetapi, agar komoditi itu bisa dipertukarkan/diperjualbelikan maka
komoditi tersebut pertama-tama harus memiliki nilai-guna. Dalam contoh pengusaha restoran
tadi, nilai-guna masakannya itu adalah untuk mengenyangkan si pembeli. Dengan
demikian, nilai-guna berurusan dengan persoalan personal, soal selera
individual. Semakin masakan itu enak dan mengenyangkan si pembeli individual,
maka ia akan sukarela mengeluarkan uangnya untuk membeli masakan tersebut.
Dan seperti yang telah kita
diskusikan di bagian pertama Kajian ini, baik nilai-guna maupun nilai-tukar
melekat pada satu komoditi yang sama. Dengan begitu, komoditi bukanlah sebuah
barang kepemilikan yang bersifat ‘natural,’ melainkan barang kepemilikan yang
bersifat ‘sosial.’ Artinya, hanya dalam masyakat dimana barang-barang itu
dipertukarkan maka barang tersebut memiliki nilai-tukar, yakni barang tersebut
merupakan komoditi (Heinrich, 2012:40). Kalau kita ambil contoh masakan di
atas, maka masakan tersebut memiliki ‘bentuk natural’ karena ia terdiri dari
sejumlah barang seperti nasi, ikan, sayur, sambal, air, dst yang terasa enak
dan mengenyangkan. Tetapi, masakan tersebut berubah menjadi ‘bentuk sosial’
karena masakan itu telah menjadi komoditi, bahwa masakan itu
dipertukarkan dan karenanya ia memiliki ‘nilai-tukar.’ Singkatnya, masakan itu
menjadi komoditi tidak dicirikan oleh masakan itu sendiri melainkan oleh sistem
sosial dimana masakan (barang) itu eksis (ibid., h.41). Dalam hal ini Marx
sedang membicarakan tentang sistem sosial (masyarakat) kapitalis.
Nah, sekarang kalau kita pergi
ke pasar maka di sana kita jumpai seribu satu macam jenis komoditi yang saling
dipertukarkan setiap harinya. Jika Anda tertarik dan punya uang maka komoditi
itu segera berpindah tangan menjadi milik Anda. Dan ada begitu banyak orang
seperti Anda yang lalu-lalang di pasar, baik teman, keluarga, handai-tolan,
maupun orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Pertanyaannya kemudian, apa
yang menyebabkan beragam jenis komoditi itu bisa saling dipertukarkan?
Misalnya, jika sepasang sepatu di tukar dengan sekilo beras, dan semeter kain,
dst, apa yang membuat pertukaran itu menjadi mungkin? Atau, apa yang
menyebabkan saya atau Anda membeli celana jeans dan orang lain membeli jam
tangan, serta orang lainnya lagi membeli buku? Tentu saja jawabannya karena
barang-barang itu memiliki nilai. Dalam contoh di atas, maka sepasang sepatu
itu memiliki nilai yang setara dengan sekilo beras dan semeter kain. Artinya,
barang-barang ini memiliki nilai yang sama. Ketika Anda beli celana jeans dan
orang lain beli jam tangan, maka pada diri Anda dan orang lain tersebut kedua
barang itu memiliki nilai yang sama.
Tetapi, apa nilai yang sama
yang melekat pada komoditi yang saling dipertukarkan tersebut? Jauh sebelum
Marx, para ahli ekonomi politik coba memberikan jawaban bahwa nilai suatu
barang ditentukan oleh kegunaannya (usefulness):
untuk barang yang sangat berguna buat kita maka kita bersedia membayarnya
seberapa pun besar ongkos yang dibutuhkan. Bahkan, jika perlu, nyawa kita dan
nyawa orang lain kita korbankan. Begitu sebaliknya, jika barang tersebut kurang
kegunannya buat kita, jelas kita tak akan membelinya atau kalau terpaksa maka
kita akan menawar barang tersebut semurah mungkin. Masuk akal bukan? Tetapi
yang masuk akal tidak berarti benar.
Adalah bapaknya ekonom Adam
Smith yang menunjukkan ketidakbenaran hal yang masuk akal itu, melalui
pemisalannya tentang air. Katanya, tidak ada yang membantah betapa
bermanfaatnya air buat kita, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa air, tetapi
nilai air sesungguhnya sangat kecil (jika Smith hidup di zama kita, tentu ia
akan merevisi contohnya tentang air ini, sebab kini air telah menjadi komoditi
seperti halnya beras). Bandingkan dengan berlian, dimana manfaatnya buat kita
terbatas (kita tak akan mati jika tak pakai berlian) tetapi nilainya sangat
besar (Heinrich,op.cit, h.42). Kenapa bisa demikian?
Marx mengatakan, ketiga
komoditi itu bisa saling dipertukarkan karena ketiganya memiliki skala (magnitude) yang identik.
Selanjutnya ia mengatakan: (1) validitas nilai-tukar sebuah komoditi tertentu
mengekspresikan sesuatu yang setara; (2) nilai-tukar tidak bisa tidak melainkan
sebuah corak ekspresi (mode
of expression), ‘bentuk yang tampak (form of appearance),’ dari isi yang berbeda (Capital, h.127). Ia memberikan contoh, jika dua
produk dipertukarkan, katakanlah 1kg baja ditukar dengan 1 karung jagung, maka
pertukaran di antara keduanya terjadi karena ada sesuatu yang merepresentasikan
kesetaraan, sehingga 1kg baja = 1karung jagung, dan kesetaraan yang melekat
pada masing-masing produk itu, sejauh masih dalam konteks nilai-tukar, bisa
diredusir pada produk yang ketiga (Capital,
ibid). Sederhananya, jika kualitas bersama itu tidak ada, tidak
mungkin terjadi pertukaran di antara barang-barang tadi.
Sampai di sini, gagasan Marx
tentang pertukaran ini bisa ditelusur akarnya pada pemikiran Aristoteles, yang
mengatakan, pertukaran tidak akan terjadi tanpa kesetaraan (equality), dan kesetaraan
tidak mungkin ada tanpa adanya standar ukuran yang sama (commensurability).
Apa standar ukuran yang sama
itu? Menurut Marx, elemen yang sama itu tidak bisa berbentuk geometrik,
fisikal, kimiawi, atau komoditi-komoditi yang dihasilkan oleh alam. Misalnya,
ukuran alamiah itu adalah panjang, berat, kepadatan, warna, ukuran, sifat
molekul, dsb. Apakah 1kg beras sama kualitasnya dengan 1kg emas, yang
memungkinkan keduanya dipertukarkan? Tentu saja tidak! Singkatnya, apapun yang
membuat kualitas fisik atau kimiawi yang melekat pada komoditi, pasti
menentukan nilai guna komoditi tersebut, karena itu memiliki nilai-guna
relatif, tetapi itu bukan nilai-tukar. Nilai-tukar, mesti dipisahkan (abstracted) dari apapun
yang mengandung kualitas fisik alami dari komoditi (Mandel, 2006:36).
‘Kita
telah melihat, ketika komoditi berada dalam hubungan pertukaran, nilai-tukar
mereka manifes (menjelma) pada dirinya sendiri sebagai sesuatu yang secara
total independen dari nilai-guna mereka. Tetapi, jika kita memisahkan
nilai-guna komoditi tersebut, yang tetap darinya adalah nilai, sebagai sesuatu
yang baru saja didefinisikan. Oleh sebab itu, faktor bersama dalam hubungan
pertukaran, atau di dalam nilai-tukar sebuah komoditi, adalah nilai itu
sendiri’ (Capital, h.128).[2]
Dengan demikian, nilai tukar
tidak lain adalah corak ekspresi yang dibutuhkan (necessary mode of expression), atau bentuk
yang tampak (form of
appearance) dari nilai (Capital,
loc.cit). Tetapi, darimana nilai itu berasal? Di sinilah Marx
menimba inspirasinya dari Adam Smith dan David Ricardo. Kembali pada contoh air
dan berlian yang dikemukakan Smith sebelumnya, berlian menjadi lebih bernilai dari air karena ‘kerja yang dibutuhkan
untuk memproduksi kedua barang ini berbeda.’ Lebih konkretnya adalah ilustrasi
paling terkenal dari Smith berikut,
‘Jika
dalam sebuah masyarakat yang hidupnya tergantung pada berburu, sebagai contoh,
maka biasanya ongkos (cost) kerja untuk membunuh
berang-berang (beaver) adalah dua kali lipat ketimbang
yang dibutuhkan untuk membunuh rusa (deer), maka satu berang-berang
seharusnya nilainya sama dengan dua ekor rusa. Adalah wajar jika apa yang
biasanya diproduksi selama dua hari atau dua jam kerja, semestina dihargai
dobel dengan apa yang biasanya diproduksi dalam satu hari atau satu jam kerja’
(Vianello, in Eatwell et.al, op.cit, 233) .
Ricardo sendiri mengatakan,
‘nilai sebuah komoditi, atau kuantitas dari setiap komoditi lainnya yang
memungkinkannya dipertukarkan, tergantung pada kuantitas relatif dari kerja
yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi tersebut, bukan pada besar-kecilnya
kompensasi yang dibayarkan kepada buruh tersebut’ (Meek, 1956:97). Di
sini, baik Smith maupun Ricardo mengidentikkan nilai dengan kerja.
Konsep ini kemudian diadopsi
Marx. Dalam karyanya Value, Price anf Profit (VPP) ia secara jelas mengatakan
substansi sosial bersama yang dikandung oleh komoditi yang saling dipertukarkan
itu adalah kerja. ‘Untuk memproduksi sebuah komoditi,’ tulisnya dalam VPP,
‘maka dibutuhkan tenaga kerja untuk itu atau ada kerja yang dikeluarkan
terhadapnya’ (Zarembka, ed., 2000:14). Ia memberikan contoh: satu ons emas,
satu ton besi, seperempat kg terigu, dan 20 yards sutra, adalah nilai-tukar
dengan ukuran yang setara. Sebagai nilai-tukar, jika perbedaan kualitatif dari
nilai-guna ketiganya dihilangkan, maka yang tersisa dari ketiganya adalah
representasi jumlah yang setara dari kerja yang sama (Critique, h.29). Tesis ini
dipertegasnya dalam Capital, bahwa nilai-guna atau
barang yang berguna hanya memiliki nilai karena kerja manusia dalam bentuk
abstrak atau disebut juga waktu kerja sosial (social necessary labour) yang melekat atau
termaterialisasikan ke dalamnya (Capital, h.129). Dalam VPP ia menjelaskan
dengan kalimat yang berbeda,
‘Dan aku mau bilang tidak hanya Kerja
(Labor), tetapi Kerja
Sosial (Social Labor). Manusia
yang memproduksi sebuah barang untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya, untuk
dikonsumsinya sendiri, maka ia menciptakan sebuah produk, tapi bukan sebuah komoditi. Sebagai produser yang mandiri
ia tidak melakukan apa-apa yang berhubungan dengan masyarakat. Tetapi untuk
memproduksi komoditi, maka manusia tidak hanya
memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan sosial tertentu, tetapi kerjanya itu sendiri
harus menjadi bagian dan paket dari keseluruhan total kerja yang dikeluarkan
masyarakat. Kerja itu mesti disubordinasikan di bawah Pembagian
kerja dalam masyarakat (Division of labor within society). Tetapi ini tak akan berarti
apa-apa tanpa pembagian kerja yang lain, dan bagian itu dibutuhkan untuk menyatukan mereka’ (Zarembka, op.cit, 14; huruf miring dari Marx).[3]
‘Sebuah
benda bisa memiliki nilai-guna tanpa memiliki nilai. Dalam hal ini, adalah
benda apapun yang bisa memuaskan kebutuhan manusia tapi tidak dimediasi melalui
kerja. Udara, tanah perawan, padang rumput, hutan yang belum terjamah, dst, bisa
dimasukkan dalam kategori ini’ (Capital, h. 131).[4]
Apa yang dimaksud dengan waktu
kerja sosial ini? Marx menjawab,
‘Waktu-kerja
sosial yang dibutuhkan socially necessary labour-time ) itu adalah waktu-kerja yang
diperlukan untuk memproduksi setiap nilai-guna di bawah kondisi-kondisi
produksi yang normal dalam masyarakat dan dengan rata-rata derajat keahlian dan
intensitas kerja yang lazim dalam masyarakat (Capital, h.129).[5]
Tapi, kini kita dihadapkan pada
pertanyaan baru, bagaimana mengukur kerja abstrak tersebut? Kita telah tahu
bahwa nilai-guna tidak bisa dijadikan ukuran, karena nilai-guna merupakan
hubungan personal antara manusia dengan benda. Karena saya suka I-phone dan
Anda lebih tertarik pada Blackberry, maka ukuran nilai-guna ini
tidak bisa menjelaskan mengapa komoditi secara konsisten dipertukarkan dalam
rasio yang stabil. Ini berbeda dengan kerja manusia yang melekat pada komoditi
yang bisa diukur secara obyektif, yang secara kuantitas diukur berdasarkan
durasi kerja atau waktu kerja (labour-time)
dan tenaga kerja itu sendiri diukur dalam skala tertentu seperti jam, hari,
minggu, dst. (Capital:
h.129).
Tetapi, jika nilai sebuah
komoditi diukur berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan (necessary-labour time)
untuk memproduksinya, di sini kita akan langsung berhadapan dengan soal yang
membuat kita tampak bodoh: semakin lambat (idle),
malas (lazy), dan tidak terampilnya seorang buruh (unskilled labor/simple labor)),
maka semakin besarlah nilai dari komoditi yang diproduksinya, karena semakin
panjang waktu yang dihabiskannya untuk memproduksi komoditi tersebut.
Sebaliknya, nilai dari komoditi yang dihasilkan oleh buruh terampil (skilled labor/complex labor)
lebih kecil karena waktu yang digunakan untuk memproduksi komoditi tersebut
lebih kurang.
Untuk memperjelas pertanyaan
ini, mari kita lihat ilustrasi matematis dari Edward B. Aveling berikut:
katakanlah V adalah simbol dari nilai, dan Q adalah simbol dari kuantitas
kerja yang melekat pada komoditi. Karena nilai sebuah komoditi bergantung pada
kerja manusia yang melekat padanya, maka makin besar Q, makin besar pula V;
begitu sebaliknya.
Hubungan ini disimbolkan
menjadi V ∞ Q.
Kini, kita masukkan variabel
produktivitas kerja, yang oleh Aveling diberi simbol P. Jika P berkurang, maka
waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi (Q) bertambah, dengan
demikian, V juga bertambah; sebaliknya, jika P bertambah maka Q berkurang dan
otomatis V pun berkurang. Artinya, V tidak berkaitan langsung dengan P tetapi,
merupakan kebalikannya.
Hubungan kedua ini disimbolkan
menjadi V ∞ 1/P.
Jika kedua pernyataan ini
digabung, V ∞ Q dan V ∞ 1/P, maka kesimpulannya, nilai sebuah komoditi
berhubungan langsung dengan kuantitas waktu kerja yang melekat padanya dan
berkebalikan dengan produktivitas kerja yang ditentukan oleh perkembangan ilmu
pengetahuan, kondisi-kondisi fisik dan sosial, dsb. (Avelling, 2005:2-3).
Apa konsekuensi logis dari
teori ini? Karena nilai komoditi ditentukan oleh waktu kerja yang dibutuhkan
untuk memproduksinya, maka buruh akan berlomba-lomba untuk menjadi malas dan
enggan untuk meningkatkan kertrampilannya agar bayarannya semakin besar. Tidak
ada motivasi berprestasi, karena tidak ada insentif bagi mereka yang memiliki
pengetahuan dan keterampilan yang spesifik. Kesimpulannya, teori nilai
Marx bukan hanya lucu tapi sepenuhnya salah karena tidak mengindahkan kualitas
individual dari setiap pekerja.
Konsekuensi lain dari teori ini
adalah direduksinya tenaga kerja terampil (skilled labour) menjadi tenaga kerja tidak
terampil (unskilled labour).
Meek (op.cit:168) memberikan contoh terhadap masalah ini: rata-rata tingkat
keterampilan (average degree
of skill) boleh jadi dominan di satu industri pada waktu tertentu,
tapi menjadi subordinatif di waktu yang lain; dan keseimbangan harga komoditi
yang diproduksi oleh buruh yang relatif lebih terampil secara umum lebih mahal,
dalam hubungannya dengan jumlah jam kerja yang dikeluarkan untuk memproduksi
barang tersebut, ketimbang dengan komoditi yang diproduksi oleh buruh yang
relatif tidak terampil.
Bagaimana Marx
menjelaskan soal ini? Menyambung penjelasannya soal nilai, dalam Value,
Price, and Profit, Marx
mengatakan,
‘Kamu
mungkin masih ingat bahwa aku menggunakan kata ‘kerja sosial,’ dan banyak hal yang berkaitan
dengan kualifikasi ‘sosial’ ini. Dengan mengatakan bahwa
nilai sebuah komoditi ditentukan oleh kuantitas kerja yang dipekerjakan atau yang
mengkristal di dalamnya, kita maksudkan kuantitas kerja yang dibutuhkan untuk produksi dalam masyarakat
yang ada, di bawah rata-rata kondisi produksi sosial tertentu, dengan
intensitas rata-rata masyarakat saat itu, dan rata-rata ketrampilan buruh yang
dipekerjakan. Ketika di Inggris, mesin tenun datang berkompetisi dengan tenun
tangan, maka pada yang pertama hanya setengah waktu kerja yang dibutuhkan untuk
memindahkan sejumlah benang tenun menjadi kapas atau kain. Tukang tenun tangan
yang miskin kini terpaksa bekerja 17 atau 18 jam sehari, ketimbang bekerja
selama 9 atau 10 jam sehari seperti sebelumnya. Namun demikian produk dari 20
jam kerjanya kini hanya merepresentasikan 10 jam kerja, atau 10 jam
dari kerja sosial yang dibutuhkan untuk mengkonversi sejumlah tertentu kapas
menjadi bahan-bahan tekstil. Produk dari 20 jam, dengan demikian tak lagi
bernilai dibandingkan dengan produk yang dihasilkannya dalam 10 kerja
sebelumnya’ (Zarembka, op.cit, h.16; huruf miring dari Marx).[6]
Dari kutipan ini kita temui dua
keadaan: pertama, jika kuantitas kerja sosial yang dibutuhkan terealisasi
dalam pengaturan komoditi yang memiliki nilai-tukar adalah konstan, nilai dari
komoditi tersebut adalah juga konstan. Jika perusahaan A secara konstan
memiliki 10 orang buruh untuk memproduksi 100 kemeja setiap harinya, maka nilai
dari produksi kemeja tersebut tidak berubah. Kini kita masukkan unsur
perkembangan teknologi ke dalam perusahaan A tersebut, maka konsekuensinya
perusahaan A yang mempekerjakan 10 orang buruh tersebut kini memproduksi 200
kemeja setiap harinya dengan waktu kerja yang jauh lebih sedikit ketimbang sebelumnya.
Akibatnya, nilai tambah dari kemeja tersebut semakin berkurang, sehingga
hasilnya kemudian nilai dari komoditi tersebut juga semakin rendah.
Dari kutipan ini kita temui dua
keadaan: pertama, jika kuantitas kerja sosial yang dibutuhkan terealisasi dalam
pengaturan komoditi yang memiliki nilai-tukar adalah konstan, nilai dari
komoditi tersebut adalah juga konstan. Jika perusahaan A secara konstan
memiliki 10 orang buruh untuk memproduksi 100 kemeja setiap harinya, maka nilai
dari produksi kemeja tersebut tidak berubah. Kini kita masukkan unsur
perkembangan teknologi ke dalam perusahaan A tersebut, maka di sini perusahaan
A dihadapkan pada dua pilihan: (1) jika ia ingin mempertahankan jumlah
produksinya 100 kemeja setiap harinya, maka ia harus mengurangi jumlah buruhnya
dari 10 menjadi kurang dari 10 orang; (2) ia mempertahankan 10 buruhnya tapi
jam kerjanya dikurangi; atau (3) ia mempertahankan 10 buruhnya dengan jam kerja
yang seperti semula dan hasilnya kini perusahaannya memproduksi 200 kemeja setiap
harinya. Apapun pilihannya, nilai komoditi tersebut kini tidak lagi konstan,
dimana nilai dari kemeja tersebut menjadi lebih rendah.
Kedua, Marx selalu berbicara
tentang sistem produksi kapitalisme dalam sebuah totalitas, bukan bagian per
bagian, atau wilayah per wilayah secara terisolasi. Ketika ia mengatakan waktu
kerja sosial yang dibutuhkan, hal itu bermakna waktu kerja yang dibutuhkan
untuk memproduksi nilai dalam sebuah totalitas sistem sosial kapitalistik yang
eksploitatif, kompetitif, revolusioner, ekspansif, serta krisis internal yang
tak terdamaikan antara produk yang semakin tersosialisasi versus akumulasi
profit yang makin tersentralisasi. Dengan demikian, ketika perusahaan A dalam
contoh di atas mengintrodusir input teknologi dan hukum kerja yang baru, maka
perusahaan lainnya yang memproduksi barang sejenis dengan perusahaan A juga
akan melakukan hal yang sama agar tetap eksis dalam sistem ini. Demikian
seterusnya hal ini berlangsung pada level cabang produksi, wilayah, negara, dan
seterusnya. Karena tingkat teknologi, modus organisasi produksi, dst., relatif
serupa, maka jam kerjanya juga tak jauh berbeda dan bisa dirata-rata.
Tetapi masih ada hal yang belum
begitu terang di sini, yakni penekanan Marx kerja sosial. Apakah yang dimaksudkannya adalah
antitesa kerja individual? Di sini, kita kerap bertemu
dengan kesalahpahaman luar biasa dalam memahami teori nilai Marx. Jika kita
membaca teori nilai secara vulgar, bahwa nilai komoditi diukur dari
berapa banyak jumlah kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya,
maka kita pada akhirnya akan menempatkan jumlah kerja itu ke dalam lajur
biaya (cost) produksi dalam tabel cost-benefit. Artinya, kita kemudian menempatkan
tenaga kerja setara dengan faktor-faktor produksi lainnya, seperti mesin,
tanah, bangunan, dst. Tanpa sadar kita kembali pada postulat ekonomi
non-Marxis bahwa nilai sebuah komoditi ditentukan oleh seberapa bergunanya
barang itu buat kita.
Dalam bahasa Heinrich(op.cit, 45-47), jika nilai sebuah
komomditi dilihat terutama pada seberapa banyak waktu kerja yang
dibutuhkan untuk memproduksi komoditi tersebut, maka Marx sesungguhnya tidak
pernah melangkah lebih jauh dari pandangannya para ekonom klasik. Judul bukunya
bukan lagi Capital A Critique of Political
Economy,melainkan Capital An Explanation of Political
Economy. Penjelasan
yang berangkat dari posisi ini pada akhirnya membuat kita terjebak pada pertimbangan-pertimbangan
rasional individu
yang terisolasi. Ekonom neoklasik modern juga bertolak dari pengandaian
yang sama bahwa maksimalisasi kegunaan individual (utility-maximizing individual), merupakan
titik berangkat untuk menjelaskan hubungan pertukaran yang berbasis pada
estimasi kegunaan. Dari titik berangkat individu yang terisolasi ini, baik
ekonom klasik maupun neoklasik kemudian berusaha menjelaskan keseluruhan
perkembangan masyarakat. Pada mula dan akhirnya adalah individu
Menurut Heinrich, Marx
sebaliknya mengatakan bahwa masyarakat bukanlah hasil dari penjumlahan
individu-individu yang terisolasi satu sama lain, sehingga kualitas
individu menentukan kualitas masyarakat. Yang fundamental bagi Marx adalah
hubungan sosial (social relations) dimana individu itu melekat,
sehingga individu di sini mesti menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi
sosial dimana ia eksis. Jika ia gagal menyesuaikan diri maka ia akan tergilas
dari hubungan sosial tersebut.
‘Dalam
produksi sosial dari keberadaannya, manusia tak terelakkan masuk ke dalam
hubungan tertentu, yang independen dari keinginannya, yakni hubungan produksi
yang sesuai dengan tahapan tertentu perkembangan kekuatan produksi materialnya’
(Critique, h.21).[7]
Mari kita ambil contoh konkret
berikut. Dalam kapitalisme, untuk bisa hidup individu tersebut harus mengikuti
logika masyarakat kapitalis, bahwa produksi terutama ditujukan untuk akumulasi
kapital tanpa batas yang dimediasi oleh pasar yang impersonal. Sebagai
pengusaha, misalnya, Anda tidak bisa seenak perutnya menjual komoditi Anda
tanpa mengindahkan tingkat harga, bunga bank, dan persaingan dengan pengusaha
lainnya yang ada di sekeliling Anda. Jika Anda tidak peduli dengan
kondisi-kondisi tersebut, misalnya, dengan menjual barang lebih mahal dari
pesaing Anda atau menjual barang semurah-murahnya karena rasa belas kasih pada
si miskin, maka bisa dipastikan bisnis Anda akan gulung tikar. Dengan demikian,
untuk bisa memenangkan kompetisinya di pasar maka Anda harus terus-menerus
meningkatkan produktivitas kerja buruh setinggi-tingginya dengan tingkat upah
serendah-rendahnya. Eksploitasi kapital terhadap buruh dengan demikian
merupakan keniscayaan terlepas dari urusan moral individu kapitalis. Demikian
juga bagi seorang buruh individual. Ia memang seorang individu bebas, ia bisa
bekerja atau tidak bekerja sekehendak hatinya tanpa ada yang bisa memaksanya.
Tapi, untuk bisa hidup dan meningkatkan potensi-potensi kemanusiaannya, mau tak
mau ia harus bekerja, menjual tenaganya kepada si kapitalis. Tapi, ia pun bisa
berhenti dari pekerjaannya pada individu kapitalis tertentu dan pindah ke
individu kapitalis lainnya sesuka hatinya. Ia bebas berpindah dari satu
kapitalis ke kapitalis lainnya, tapi ia tidak bisa keluar dari sistem produksi
kapitalis tersebut. Di sini pertimbangan rasionalitas individual menyesuaikan
dirinya dengan kondisi hubungan sosial yang melingkupinya.
Dengan kata lain, teori nilai
Marx tidak berurusan dengan pertimbangan-pertimbangan mereka yang terlibat
dalam proses pertukaran secara individual. Tidak juga nilai sebuah komoditi
berkorespondensi dengan waktu kerja sosial yang dibutuhkan untuk produksi hanya
karena mereka yang terlibat dalam pertukaran menghendakinya. Apa yang
hendak Marx tuju dengan teori ini adalah menjelaskan struktur sosial yang
khusus dimana individu harus menyesuaikan diri dengannya, tanpa menghiraukan apa yang
sebenarnya mereka pikirkan (huruf
miring dari Heinrich). Singkatnya, teori nilai bukanlah
‘bukti’ bahwa tindakan pertukaran individual ditentukan oleh produktivitas
waktu kerja sosial yang dibutuhkan. Sebaliknya, ia hendak menjelaskan karakter
sosial khusus dari kerja yang memproduksi komoditi. Dari sini kita kemudian
bisa mengetahui perbedaan Marx dengan kalangan ekonom klasik dan neoklasik:
‘Adam
Smith mengobservasi satu tindakan pertukaran dan bertanya
bagaimana akhir dari pertukaran bisa ditentukan. Marx melihat hubungan
pertukaran individual sebagai bagian dari totalitas masyarakat – sebuah totalitas dimana reproduksi
masyarakat diperantarai oleh pertukaran – dan bertanya apa artinya ini bagi
kerja yang dikeluarkan oleh seluruh masyarakat’
(Heinrich, 47).
Dari pemaparan Heinrich ini,
maka penjelasan Rubin bahwa ‘teori nilai tidak berurusan dengan kerja sebagai
sebuah faktor teknikal produksi, tapi dengan aktivitas kerja orang-orang
sebagai basis bagi kehidupan sosial, dan dengan bentuk-bentuk sosial dalam mana
kerja itu hadir’(ibid:82)
menjadi benar adanya. Dengan kata lain, esensi dari teori nilai adalah
menempatkan hubungan antar manusia sebagai hal yang pertama dan terutama, bukan
hubungan antara manusia dengan benda, apalagi hubungan di antara benda-benda.
Ronald E. Meek (opcit: 145), memberikan deskripsi yang menarik soal esensi ini,
dengan menekankan bahwa nilai, bagi Marx, menampakkan dirinya dalam wujud
ekspresi hubungan produksi di antara manusia (production relation between man) dalam
masyarakat kapitalis. Inilah inti dari ekonomi Marxian,
‘ilmu
ekonomi tidak berurusan dengan benda-benda tapi dengan hubungan di antara
person, dan pada akhirnya, hubungan di antara kelas-kelas; namun demikian,
hubungan tersebut selalu melekat pada
benda-benda dan tampak sebagai benda-benda’ (Engels in Howard & King, 1985:43; huruf
miring dari Engels).
***
Sekarang, kita memasuki satu
persoalan lain berkaitan dengan kerja ini. Ketika Marx bicara kerja, maka yang
terang ia bicara adalah kerja yang memproduksi komoditi yang melulu berkaitan
dengan hal-hal yang bersifat fisikal, yakni barang-barang yang bersifat
material. Bagaimana dengan mereka yang bekerja tapi tidak memproduksi
barang-barang material? Misalnya, mereka yang bekerja di sektor jasa pelayanan
dan keuangan, seperti sopir taksi, teller bank, penjaga keamanan, atau
konsultan bisnis?
Perkara kerja imaterial ini,
terutama dalam perkembangan kapitalisme finansial saat ini, dianggap tidak bisa
lagi dijelaskan oleh teori nilai Marx. Dan karena itu Marxisme tidak lagi
relevan, karena unit analisanya adalah kapitalisme industrial yang terbatas
pada lokasi pabrik tertentu.
Untuk mengatasi soal ini,
mari kembali menengok tesis Harvey yang tertera pada bagian awal artikel
ini. Awalnya kita mengetahui bahwa komoditi memiliki dua aspek: nilai-guna dan
nilai-tukar. Agar komoditi bisa dipertukarkan maka ia harus memiliki
nilai-guna, yang disebut sebagai nilai-guna sosial. Nilai-tukar itu sendiri
merupakan pencerminan dari sesuatu, yang kata Marx, pencerminan dari nilai. Dan
nilai tidak lain adalah waktu kerja sosial yang dibutuhkan. Tetapi nilai tidak
berarti apapun kecuali jika ia berhubungan kembali dengan nilai-guna.
Nilai-guna dengan demikian adalah kebutuhan sosial bagi nilai.
Nah berkaitan dengan kerja
imaterial, jika kita membatasinya sekadar bahwa ia memiliki nilai-guna, maka
terang sudah bahwa aktivitas pelayanannya itu bukan sebuah komoditi. Tapi,
sekali lagi, ini bukan definisi Marx, melainkan definisinya ekonom non-Marxis.
Bagi Marx, seperti yang telah kita diskusikan di atas, komoditi tidak dicirikan
bentuk naturalnya (kini bisa kita tambahkan bentuk fisikalnya) melainkan oleh
sistem sosial dimana komoditi itu eksis. Ketika aktivitas pelayanan itu telah
diperjualbelikan, secara otomatis ia merupakan komoditi. Tentu saja ada
perbedaan antara produk material dan produk imaterial, yakni pada hubungan
temporal antara produksi dan konsumsi (Heinrich, op.cit., h.44). Jika pada produk
material maka ia harus diproduksi terlebih dahulu lalu dikonsumsi, sementara
produk imaterial antara tindakan produksi dan konsumsi terjadi secara
berbarengan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar