BELAJAR, BERSATU, BERJUANG BERSAMA RAKYAT!!! SIAP SEDIA!!!

Rabu, 28 Oktober 2015

Komoditi Sebagai Hubungan Sosial


BERBEDA dari ahli ekonomi politik pada zamannya, Karl Marx menempatkan komoditi sebagai sesuatu yang sangat penting untuk dibahas, sebelum mengurai soal-soal penting lainnya seperti sewa, tanah, tenaga kerja, nilai lebih, krisis, tendensi jatuhnya tingkat keuntungan, dsb. Karena itu, dalam Capital, Marx memulai karya besarnya itu dengan membahas Komoditi. Bahkan bisa dibilang, Capital tidak lain adalah teori tentang komoditi (Albritton, 2007: 23).
Tentu pilihan ini bukan tanpa alasan. Kata Marx, kemakmuran sebuah masyarakat di mana corak produksi kapitalis (capitalist mode of production) muncul, menampakkan dirinya dalam wujud ‘an immense collection of commodities/tumpukkan komoditi yang sangat banyak.’ Atas dasar ini, katanya, ‘investigasi kami harus dimulai dengan menganalisis apa itu komoditi.’ Tetapi, mengapa harus mulai dengan topik produksi komoditi?
Di sini, kita mesti berurusan dengan metodologi Marx, dan karena itu saya mengajak Anda kembali sejenak keGrundrisse, karya Marx yang banyak berbicara tentang metode berpikirnya. Pada buku yang mendahului Capital itu, Marx mengatakan, ia ingin membuat satu kajian yang bertolak dari realitas menuju buku teks. Menurutnya, yang terjadi selama ini, kajian selalu bertolak dari buku teks menuju realitas, sehingga tugas dialektika menjadi mencari keseimbangan dalam konsep, bukan dialektika yang muncul dari relasi yang nyata (Marx, 1993: 90). Berdasarkan itu, ekonom-cum-filsuf Rusia I.I. Rubin mengatakan, ciri khas pemikiran Marx selalu berusaha melampaui apa yang tampak dari luar (outward appearance), atau yang sekadar menunjukkan hubungan eksternal (external connection), atau bahkan yang hanya berupa fenomena permukaan (surface of phenomena), untuk kemudian menuju pada sesuatu yang berkaitan dengan hubungan internal (internal connection), hubungan yang bersifat imanen (immanent connection), atau menelisik pada esensi benda-benda (the essence of things) (1990: 26). Lenin menyebut metode presentasi ini sebagai proses ‘from living perception to abstract thought’ (Lebowitz, 2009: 195).
 Dengan metode presentasi seperti itu, Martin Nicolaus mengatakan bahwa Marx membuka Capital dengan membahas soal produksi komoditi, sebagai tanda perpisahan terakhirnya dengan Logic karya Hegel dan juga karya-karya dia sebelumnya, yang senantiasa bertolak dari sesuatu yang murni,  tetap, abadi, dan abstrak universal. Dengan memulai dari komoditi, Marx menegaskan posisi teoritiknya bahwa sesuatu itu harus bermula dari yang konkret, material, yang bisa disentuh oleh indera, dan spesifik secara historis; dan yang di dalamnya (kesatuan) menjadi kunci antitesis (nilai guna vs nilai tukar), yang perkembangannya melibatkan seluruh kontradiksi lainnya dalam corak produksi ini (Nicolaus in Marx, 1993: 38). Ditambahkan Tony Smith, teorisasi Marx dimulai dari apa yang disebut ‘method of inquiry,’ yakni studi yang sangat dekat terhadap obyek yang sedang diinvestigasi serta teori-teori yang mendahuluinya. Sementara, mengutip Marx,  ‘Hegel jatuh ke dalam ilusi karena memahami yang riil sebagai produk dari pikiran yang mengkonsentrasi dirinya sendiri, menyelidiki kedalaman dirinya, dan mengungkap dirinya dari dirinya sendiri, oleh dirinya’ (Smith in Moseley, 1993: 16).[1] Dan sebagai  gantinya, Marx kembali jauh ke belakang kepada Aristoteles sebagai rujukan metodologisnya. Marx, mengikuti Aristoteles, senantiasa memulai segala sesuatunya dari penampakkan luarnya untuk kemudian menelisik hingga atribut-atribut esensialnya. Dalam pengertian ini, Marx adalah seorang Aristotelian esensialis (Pack, 2010: 111).
Bagi ekonom M.C. Howard dan J.E. King, ada tiga alasan  Marx memulai pembahasannya dengan topik produksi komoditi: pertama, dalam kapitalismelah bentuk umum dari komoditi memperoleh perkembangannya yang tertinggi;kedua, Marx berpendapat bahwa banyak gambaran kunci dari kapitalisme sebenarnya berkembang dari bentuk-bentuk produksi komoditi pra-kapitalis; dan ketiga – ini yang terpenting – Marx percaya bahwa aspek-aspek kapitalisme secara analitis berkembang pesat di luar, dan bahkan bertentangan dengan produksi komoditi pra-kapitalis (Howard & King, 1985: 56). Sedangkan menurut Harry Cleaver, dalam bukunya Reading Capital Politically,alasan mengapa Marx memulai kajiannya tentang komoditi, karena ‘komoditi merupakan bentuk yang paling fundamental dari kapital.’ ‘Dan jika kita membaca bagian Capital sesudahnya,’ demikian Cleaver, ‘maka kita akan menemukan kejelasan mengapa kemakmuran dalam masyarakat borjuis, menampakkan dirinya dalam wujud komoditi,’ (Cleaver, 2000: 81).
Penjelasan lain dikemukakan Stephen Saphiro. Menurutnya, pertama-tama seharusnya kita memperhatikan kalimat Marx dalam paragraf pembuka bab I, yang berbunyi: ‘[t]he wealth of societies in which the capitalist mode of production prevails appears….’ Dengan menggunakan frasa ‘the wealth of society,’ demikian Shapiro, Marx dengan sengaja mengganti frasa yang digunakan Adam Smith ‘the wealth of nations,’ sekaligus menunjukkan bahwa asumsi dasar dari kalangan pembela pasar bebas adalah keliru. Bagi Marx, soal paling mendesak dan utama dari masyarakat kapitalis adalah bagaimana mencetak untung, bukan membangun hubungan antara negara-bangsa dan pasar; Kedua,dengan demikian konsekuensinya adalah bersifat historis. Melalui frasa ‘in which the capitalist mode of production prevails,’ Marx memaksudkan bahwa ia tidak menulis keadaan masyarakat secara umum. Sebaliknya, ia hanya ingin fokus pada masyarakat di mana praktek ekonomi kapitalis tampil dominan, yakni masyarakat kapitalis. Ia ingin menunjukkan kepada pembacanya, perbedaan mendasar antara corak produksi kapitalis dengan corak produksi lama, dan bagaimana kita mengubah cara kerja produksi kapitalis tersebut dan selanjutnya keluar dari kerusakan yang disebabkan oleh kapitalisme. Jika kita belajar apa yang menyebabkan kapitalisme itu unik dan bagaimana ia mulai bekerja, maka kita bisa berpikir tentang bagaimana cara mengakhirinya.
Ketiga, sebagai ikutan dari dua hal di atas adalah memahami transformasi sejarah masyarakat kapitalis menjadi masyarakat non-kapitalis. Sepintas kita bisa melihat apa yang menyebabkan masyarakat kapitalis berbeda, karena mereka menciptakan ‘immense collection of commodities.’ Tentu saja kita tak harus menjadi seorang ekonom untuk mengetahui bahwa transaksi barang telah bertumbuh berkali lipat di banding corak produksi sebelumnya. Tetapi, yang menjadi perhatian utama Marx dalam Capital, adalah ‘mengapa dan bagaimana mereka memproduksi barang, ketimbang mengapa dan bagaimana rakyat mengkonsumsi barang tersebut.’ Inilah perbedaan asasi antara Marx dan ekonom liberal, khususnya Adam Smith (Shapiro, 2008: 2-3; Nicolaus in Marx, op.cit).
Perbedaan mendasar antara Marx dan ekonom arus utama (mainstream) ini, dijelaskan lebih lanjut oleh ekonom Ben Fine dan Alfredo Saad-Filho: Bagi ekonom mainstream, karena ekonomi berurusan dengan kebutuhan akan konsumsi, maka perhatian utama ilmu ekonomi berkaitan dengan pertanyaan bagaimana mengalokasikan sumberdaya-sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Dari sudut pandang ini, maka ekonomi lantas diorganisasikan melalui mekanisme pasar, negara, rumah tangga, atau boleh jadi perbudakan. Dan seperti yang kita ketahui, kalangan ini percaya bahwa semakin pasar dibiarkan beroperasi secara independen, maka alokasi barang-barang akan semakin efisien.
Sebaliknya, menurut Marx, hubungan masyarakat, khususnya hubungan kelas, adalah esensial dalam membedakan bentuk ekonomi yang satu dengan bentuk ekonomi yang lain, juga perbedaan di dalam satu sistem ekonomi itu sendiri. Ini melibatkan tidak hanya hubungan kepemilikan dan distribusi yang menentukan corak produksi, siapa yang memiliki apa dan mengapa, tapi juga bagaimana kepemilikan itu diorganisasikan dan kemudian muncul dalam bentuk kontrol atas kerja dan hasil kerja (produk), serta aspek-aspek organisasi sosial lainnya. Dalam makna ini, sektor produksi menjadi penting, karena secara sederhana bisa dikatakan, tanpa produksi tak akan ada pertukaran dan jika manusia berhenti bekerja atau berproduksi maka tidak akan ada masyarakat yang bisa bertahan dalam hitungan minggu. Dalam kaitan inilah, produksi komoditi menjadi gambaran paling krusial dari kapitalisme (Fine and Saad-Filho, 2004: 16).
Tetapi, penekanan pada hubungan produksi tidak berarti pengabaian terhadap hubungan pertukaran. Menurut Lebowitz, dalam Capital, Marx terus-menerus mendeskripsikan bahwa kapital (capital) merupakan kesatuan antara produksi dan sirkulasi dan juga perkembangan kapital sebagai kesatuan yang bersifat dialektik (Lebowitz, op.cit: 104, huruf miring dari Lebowitz). Kesatuan antara elemen produksi dan sirkulasi ini tampak jelas dalam Grundrisse, di mana Marx mengajukan empat momen yang tak terpisahkan: (1) produksi; (2) distribusi; (3) pertukaran; dan (4) konsumsi. Dalam produksi, anggota masyarakat menciptakan atau membentuk produk alamiah yang sesuai dengan kebutuhannya; sementara distribusi menentukan proporsi di mana individu membagi-bagi produk tersebut; dalam pertukaran, produk-produk tertentu yang memenuhi keinginan individu itu dipindahkan porsinya sesuai distribusi yang dibutuhkannya; dan akhirnya, dalam konsumsi, produk menjadi obyek kepuasan, demi kepentingan diri individu tersebut. Marx melanjutkan, produksi menciptakan obyek yang sesuai dengan kebutuhan yang ada; distribusi membagi obyek tersebut menurut hukum-hukum sosial; pertukaran lebih jauh lagi membawa keluar obyek yang telah dibagi-bagi tersebut agar sesuai dengan kebutuhan individu; dan pada akhirnya konsumsi menyebabkan produk tersebut melangkah ke luar dari gerak sosial dan menjadi obyek serta pelayan langsung kebutuhan individual, demi untuk memuaskan konsumen, (op.cit: 88-9).
Singkatnya, demikian Marx, produksi adalah titik berangkat, konsumsi menjadi kesimpulannya, sementara distribusi dan pertukaran adalah perantaranya, yang mengandung dua makna, yakni distribusi ditentukan oleh masyarakat dan pertukaran oleh individu. Dengan begini, distribusi menentukan hubungan sejauh mana produk sampai ke tangan individu (jumlah); sementara pertukaran menentukan produksi, sehingga pengalokasian porsi permintaan individual bisa sampai ke tangannya melalui distribusi. Maka, ujar Marx lebih lanjut,
‘produksi, distribusi, pertukaran dan konsumsi membentuk sebuah silogisme biasa; produksi adalah keumuman, distribusi dan pertukaran adalah kekhususan, dan konsumsi adalah keunikan, di mana keseluruhannya ini bergabung bersama’ (ibid: 89).[2]
***
Dengan latar belakang seperti itu, kini kita melangkah pada pertanyaan ‘apa yang dimaksud dengan komoditi?’ Tetapi sebelum menjawab pertanyaan ini, saya ingin memberikan satu pemahaman umum mengenai kekhasan produksi komoditi.
Kita mengetahui bahwa sepanjang sejarahnya, untuk bisa hidup maka manusia pertama-tama harus makan. Dan untuk bisa memenuhi kebutuhannya untuk makan itu, ada dua cara yang bisa ditempuh: pertama, kebutuhan tersebut diperoleh melalui memproduksi langsung barang tersebut (produksi untuk konsumsi) baik melalui cara berburu, mengumpul maupun bercocok tanam; dan cara kedua, adalah memperoleh barang tersebut secara tidak langsung, yakni melalui proses tawar-menawar (produksi untuk pertukaran). Elemen kunci dari pertukaran ini adalah bahwa barang tersebut secara praktikal dikontrol oleh pemiliknya  sebagai agen yang bebas, di mana sang pemilik ini berhak penuh terhadap barang tersebut, yakni hak untuk menjual dan menguasai hasil penjualan tersebut termasuk keuntungannya. Produk yang eksis dalam sistem kepemilikan dan pertukaran inilah yang disebut Marx sebagai komoditi (Foley, 1986: 12; Albritton, 2007).
Dengan begitu, sistem di mana produksi diorganisasikan melalui mekanisme pertukaran, disebut sebagai sistem produksi komoditi (commodity-producing systems). Dalam Capital Marx menyebut sistem produksi komoditi ini sebagai kapitalisme, sehingga dengan demikian studi Marx dalam Capital berurusan dengan sistem produksi kapitalisme.
Kembali pada pertanyaan tadi, ‘apa yang dimaksud dengan  komoditi?’ Pada jamannya, menurut Marx, istilah komoditi yang populer adalah yang didefinisikan oleh para ekonom Inggris, sebagai ‘setiap benda yang dibutuhkan, yang berguna untuk kelangsungan hidup,’ obyek kebutuhan manusia, atau alat untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam pengertian yang luas. Singkatnya, komoditi, menurut para ekonom itu, adalah ‘barang yang memiliki kegunaan.’ Komoditi dalam pengertian ini, misalnya, adalah sepatu, sandal, beras, mobil, rumah, dsb yang kita bisa lihat dan temukan ketika kita pergi ke pasar.
Marx sendiri mengatakan, komoditi adalah (1) obyek yang berada di luar kita; yang (2) bisa memenuhi kebutuhan manusia; di mana (3) padanya kerja manusia melekat; dan (4) tidak dikonsumsi oleh produsernya tapi, oleh pihak lain. Point (1) dan (2) dipungutnya dari para ekonom Inggris itu, sementara point (3) dan (4) adalah penjabarannya lebih lanjut atas kekhususan produksi komoditi dalam sistem kapitalisme.
Lebih lanjut dikatakannya, setiap benda yang berguna bisa dilihat dari dua sudut pandang: kualitas dan kuantitas (Marx, 1990: 125). Dalam bukunya, A Contribution To The Critique of Political Economy (selanjutnya disebut Critique), Marx, meminjam konsepnya Aristoteles, mengatakan, komoditi mengandung dua aspek, yakni aspek nilai-guna (use-values) dan aspek nilai-tukar (exchange-values) (1989: 27). Aspek nilai-guna inilah, yang disebut oleh para ekonom Inggris, sebagai ‘barang yang memiliki kegunaan.’
Bagian ini akan fokus membahas kedua aspek komoditi ini, karena seringkali terjadi kesalahpahaman dalam pemaknaan tentang-nilai guna dan nilai-tukar. Marx sendiri sebenarnya ada menyebut istilah lain, yakni Nilai (Value) yang merupakan bagian sangat penting dan kontroversial dari bab-bab pembuka Capital, dan karena itu diskusi tentang Nilai ini akan saya lakukan secara terpisah pada bagian bedua dari artikel ini.

Nilai-guna (Use-values)
Ketika mendiskusikan tentang nilai-guna, Marx mengatakan, setiap benda yang berguna (the usefulness of a thing), pasti memiliki nilai-guna. Namun demikian, kegunaan itu bukanlah sesuatu yang melayang di udara. Kegunaannya ditentukan oleh sifat fisikal komoditi sehingga eksistensinya tidak bisa dipisahkan dari komoditi. Dalam Critique, ia mengatakan, nilai-guna sebagai salah satu aspek dari komoditi, bersesuaian dengan eksistensi fisikal sebuah komoditi. Sebagai contoh, ujarnya, sebuah komoditi, katakanlah besi, jagung atau berlian, sejauh itu merupakan benda material, memiliki nilai-guna, merupakan sesuatu yang berguna.
Nilai-guna yang melekat pada sebuah komoditi, membuatnya berbeda dengan komoditi yang lain. Sepasang sepatu memiliki nilai-guna yang berbeda dengan nilai-guna sepasang sandal, meja, kursi, dsb. Di sini, kita berurusan dengan aspek kualitatif sebuah benda. Misalnya, ketika musim hujan, kita lebih membutuhkan payung ketimbang cincin berlian, dan sebaliknya ketika hendak ke pesta, cincin berlian lebih berkualitas ketimbang sebuah payung. Atau sebuah buku teks ilmiah sama bergunanya dengan roman picisan, karena keduanya memuaskan kebutuhan pembacanya.
Dengan karakternya yang demikian, nilai-guna memiliki nilai, hanya ketika ia digunakan dan direalisasikan dalam proses konsumsi. Sepasang sandal menjadi tidak berguna, jika tidak digunakan oleh pemiliknya. Emas yang ada di toko emas tidak ada gunanya, jika ia hanya dipajang di etalese toko tersebut. Namun, sebuah karya seni lukis yang dipajang di galeri menjadi berguna bagi para pencinta seni yang berkunjung ke galeri tersebut. Karena itu, nilai-guna ini adalah substansi seluruh kekayaan, apapun bentuk sosial yang mungkin dari kekayaan itu. Dengan demikian, walaupun nilai-guna melayani kebutuhan sosial, dan eksis dalam kerangka kerja sosial, tetapi keberadaannya tidak mengekspresikan hubungan sosial produksi. Pada setiap corak produksi, nilai-guna sebuah benda senantiasa eksis. Dalam Critique, Marx, mengatakan, nilai-guna independen dari kungkungan bentuk ekonomi, karena itu aspek nilai-guna ini tidak mendapatkan perhatian serius dalam studi ekonomi politik (1990: 28).

Nilai-tukar (Exchange-values)
Jika nilai-guna berurusan dengan masalah kualitas, maka nilai tukar berkaitan dengan soal kuantitas. Misalnya, jika nilai-guna sebuah benda diukur dari kegunaannya dan berakhir dengan konsumsi, maka nilai-tukar diukur dari seberapa bisa benda tersebut dijual dan berakhir dengan pertukaran. Dalam Capital, Marx, mengatakan, ‘Nilai-tukar pertama kali muncul sebagai hubungan kuantitatif, proporsi, di mana nilai-guna satu benda dipertukarkan untuk nilai-guna benda lainnya,’ (op.cit: 126).
Dengan demikian, sepasang sandal memiliki nilai-tukar sejauh ia bisa dipertukarkan dengan benda lain. Semakin banyak jumlah sandal yang bisa dijual, maka nilainya semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya. Namun, bila kita membeli sebuah mobil, tidak dengan sendirinya mobil tersebut memiliki nilai-tukar. Jika mobil yang kita beli itu hanya digunakan sendiri atau sekadar menghiasi garasi besar di rumah kita, maka mobil tersebut hanya memiliki nilai-guna, tapi tidak memiliki nilai-tukar. Mobil tersebut baru memiliki nilai-tukar ketika kita menjualnya kepada pihak lain.
Dari sini, kita bisa mengatakan, nilai-tukar adalah sebuah proses yang tak pernah berhenti. Karena itu, jika nilai-guna eksis dalam semua corak produksi masyarakat, maka nilai-tukar keberadaannya menjadi penanda sebuah corak produksi masyarakat tertentu. Pada corak produksi komunal purba, keberadaan nilai-tukar tidak dikenal. Menurut Ernest Mandel (1970: 49) asal-usul pertukaran ditemukan di luar unit masyarakat primitif seperti di komunitas yang berpindah-pindah (horde), marga (klan) atau di suku (tribe). Studi antropolog sosial Inggris, Audrey I. Richards, terhadap rakyat Bemba di Rhodesia, menemukan, karena kondisi di wilayah itu begitu seragam, tidak tersedia alasan rasional untuk membenarkan bahwa di wilayah tersebut telah ada perdagangan barang antara satu komunitas dengan komunitas yang lain, (Mandel, ibid)
Seiring dengan penemuan alat-alat kerja baru, masyarakat yang sudah mulai hidup menetap, dan produksi barang telah melampaui konsumsi, pola-pola pertukaran dalam masyarakat mulai dikenal. Bermula dalam wujud pemberian hadiah, untuk kepentingan upacara keagamaan, meningkat menjadi pertukaran dalam bentuk barter yang terselubung (silent barter), hingga menjadi pertukaran yang kompleks dengan jangkauan tak terbatas, yakni pertukaran di pasar yang impersonal.
Dengan demikian, kita temukan perbedaan lain antara nilai-guna dan nilai-tukar. Pada yang pertama, seseorang memproduksi barang dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau kebutuhan komunitas di mana ia hidup. Pada momen ini, menurut Mandel, produksi dan hasil produksi, kerja dan produk kerja identik pada orang tersebut, dalam praktek maupun pikirannya. Tetapi, dalam produksi komoditi, kesatuan ini hancur berkeping-keping. Produser komoditi tidak lagi hidup secara langsung dari barang hasil kerjanya, sebaliknya, ia hidup secara eksklusif dari kerjanya, (op.cit: 58).

Unity of Opposites (Kesatuan dalam Pertentangan)
Dalam masyarakat primitif, produksi secara esensial dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan, baik kebutuhan individu, komunitas mereka yang besar seperti marga atau suku atau untuk memenuhi kebutuhan komunitas kecil seperti keluarga. Tetapi, dalam sistem masyarakat borjuis, nilai-guna bukan merupakan tujuan akhir dari proses produksi. Nilai-guna tak lebih sebagai dasar bagi terjadinya nilai-tukar.
Marx memberikan contoh menarik soal ini. Katanya, sebuah berlian yang menempel di leher jenjang seorang gadis, yang berguna sebagai hiasan, tidak bisa kita sebut sebagai komoditi. Berlian yang menempel di leher sang gadis, yang membuatnya bertambah cantik, statusnya tetaplah sebagai berlian yang memiliki nilai-guna. Dan seperti yang telah kita sitir di atas, bagi Marx, sebuah komoditi pasti memiliki nilai-guna, tapi tidak setiap benda yang berguna disebut komoditi. Dalam Capital ia menulis,
‘Sebuah benda bisa memiliki nilai-guna, tanpa memiliki nilai….. Sebuah benda bisa berguna, dan merupakan produk tenaga kerja manusia, tanpa harus menjadi komoditi. Ia yang memenuhi kebutuhannya sendiri dengan barang-barang hasil produksinya sendiri memang menciptakan nilai-guna, tapi bukan komoditi,’ (ibid: 131).[3]
Ini berarti, untuk mendapatkan status sebagai komoditi, sebuah barang yang berguna harus memenuhi persyaratan tertentu. Lanjutan dari kutipan di atas berbunyi, ‘guna memproduksi komoditi, seseorang tidak hanya memproduksi nilai-guna, tapi nilai-guna buat yang lain, nilai-guna sosial (social use-values). Di bagian lain dari Capital, Marx mengatakan,
‘Benda-benda yang berguna menjadi komoditi hanya karena mereka merupakan produk dari kerja individu privat yang bekerja bersama-sama secara independen, (ibid: 165).’[4]
Friedrich Engels menambahkan, sebuah produk disebut ‘secara khusus sebagai komoditi karena adanya hubungan antara dua person atau dua komunitas yang melekat pada benda atau produk tersebut, hubungan antara produsen dan konsumen yang tidak lagi menyatu pada satu orang,’ (Howard & King, 1985: 44).
Menilik pernyataan ini, sebuah barang yang memiliki nilai-guna menjadi komoditi jika ia memenuhi dua kriteria: (1) barang yang berguna itu diproduksi oleh buruh bebas dalam pengertian ganda (bebas dari kungkungan tuannya sekaligus bebas dari kepemilikan alat-alat produksi); (2) barang yang berguna itu diproduksi untuk dipertukarkan. Dengan kata lain, komoditi adalah nilai-guna sesuatu barang yang diproduksi oleh buruh untuk dipertukarkan. Tidak berarti semua barang yang dipertukarkan, bahkan melalui pasar, bisa disebut sebagai komoditi. Misalnya, barang hasil curian atau barang-barang bekas yang kemudian dijual di pasar. Bagi Marx, kasus seperti itu bersifat insidental, ia tidak memainkan peranan sentral dalam reproduksi sosial.
Tetapi, bagaimana ceritanya nilai-guna sebuah barang berkembang menjadi nilai-tukar? Dalam Critique Marx menjawab, ketika si pemilik merasa barang tersebut tidak lagi berguna bagi dirinya. Si A memiliki sepasang sepatu yang kemudian dijualnya kepada si B. Pada diri si A, sepasang sepatu itu tidak memiliki nilai-guna.
Dari ilustrasi ini, kita memperoleh pemaknaan baru tentang nilai-guna. Jika sebelumnya Marx mengatakan bahwa nilai-guna sebuah barang terealisir hanya ketika ia dikonsumsi, maka, di sini, Marx mengatakan, si pemilik komoditi merasa komoditinya memiliki nilai-guna sejauh ia memiliki nilai-tukar. ‘Untuk menjadi sebuah komoditi,’ ujar Marx dalam Capital, ‘sebuah produk harus ditransfer kepada yang lain, di mana produk tersebut tetap memiliki nilai-guna, melalui alat pertukaran,’ (op.cit: 131). Dalam Critique, ia memberikan penjelasan lebih jernih soal ini, di mana ‘untuk menjadi sebuah nilai-guna, komoditi harus menemukan kebutuhan tertentu untuk dipuaskan. Dengan demikian, nilai-guna sebuah komoditi menjadi nilai-guna melalui mekanisme pertukaran: mereka (komoditi) lepas dari tangan pemilik semula dan berpindah ke tangan yang lain yang berfungsi sebagai barang konsumsi, melalui mekanisme pertukaran’ (ibid: 42).
Jadi, bagi si pemilik, komoditinya memiliki nilai-guna justru ketika komoditi itu berada di luar jangkauannya, yakni ketika komoditi itu memiliki nilai-guna bagi yang lain. Pada diri pemiliknya, komoditi itu tidak lagi memiliki nilai guna, nilai guna itu ia temukan pada komoditi yang dimiliki oleh orang lain. Inilah kata Marx dalam Critique,
‘Nilai-tukar sebuah komoditi tidak mewujud dalam nilai-guna komoditi itu sendiri. Tetapi, sebagai pengejawantahan waktu kerja sosial universal, nilai-guna sebuah komoditi dibuat berhubungan dengan nilai-guna komoditi lainnya. Dengan demikian, nilai-tukar sebuah komoditi menjelmakan dirinya dalam nilai-guna komoditi lainnya’(ibid: 38).[5]
Tetapi, persoalan belum selesai. Kata Marx, nilai-guna dan nilai-tukar sebuah komoditi bukan hanya dua aspek yang berbeda tapi juga kontradiktif. Di sini, walaupun konsep nilai-guna dan nilai-tukar ini terinspirasi dari Aristoteles, tapi ia menanggalkan logika formal Aristoteles dan menggunakan logika materialisme-dialektik, khususnya hukum ‘Unity of Opposites.’ Dalam satu komoditi melekat dua aspek yang menyatu sekaligus berkontradiksi: nilai-guna dan nilai-tukar. Sebuah benda memiliki nilai-guna ketika ia dikonsumsi, sementara nilai-tukar menjadi bermakna bukan karena ia digunakan, tapi karena dipertukarkan. Pemahaman seperti ini tentu saja membingungkan. Sebab, untuk memiliki nilai-guna sebuah benda harus dikonsumsi dan tidak dipertukarkan. Sebaliknya, untuk memiliki nilai-tukar, sebuah benda tidak segera dikonsumsi melainkan mesti dipertukarkan.
Situasi kontradiktif ini diselesaikan Marx dalam Critique (ibid: 44), bahwa hanya dalam proses pertukaranlah, baik aspek nilai-guna dan nilai-tukar ini berevolusi sekaligus menemukan solusinya. Menurutnya, komoditi sebelum dijual dan dikonsumsi, nilai-guna dan nilai-tukarnya masih bersifat abstrak dan potensial. Sekali komoditi tersebut dijual, pertukaran untuk uang (C – M), maka karakteristik nilai-tukar menjadi nyata. Tapi, dalam proses ini, nilai-tukar tampil dalam bentuk uang, di mana ketika uang ini ditukar dengan komoditi lainnya, yang berarti dikonsumsi (M – C), nilai-tukar tersebut bermetamorfosis kembali ke dalam aspek nilai-guna. Seperti kata ekonom Martha Campbell, ‘sejak pertukaran merealisasikan tujuan dari kedua belah pihak, itu juga bermakna terealisasinya nilai guna dan nilai komoditi secara berkelanjutan.  Ini berarti pertukaran memuaskan kebutuhan-kebutuhan tertentu individu, tapi hanya jika mereka terekspresi dalam pembayaran dengan uang’(Campbell in Moseley, op.cit, p.141).
Di sinilah letak utama keunikan produksi komoditi dalam kapitalisme. Bahwa komoditi tersebut diproduksi oleh buruh yang menjual tenaga kerjanya kepada si kapitalis yang mengontrol proses produksi; di mana komoditi yang diproduksi itu tidak dimiliki oleh buruh tapi oleh si kapitalis; dan pada akhirnya komoditi yang diproduksi itu tidak ditujukan untuk memenuhi kebutuhan langsung manusia, tapi diproduksi untuk dipertukarkan di pasar. Inilah sebabnya mengapa komoditi lebih tepat disebut sebagai hubungan (social relations) ketimbang sebagai benda (thing) dalam pemahaman non-Marxis.

Teori Nilai

TEORI nilai Marx merupakan salah satu teorinya yang paling rumit sekaligus paling kontroversial. Jika kita bisa melewati diskusi mengenai teori ini dengan lancar, maka diskusi mengenai topik-topik lainnya dalam Capital  menjadi lebih mudah.
Teori nilai seringkali disebut berbarengan sebagai Teori Nilai Kerja (TNK). Menariknya, Marx sendiri tidak pernah menyebut teori nilai sebagai TNK. Sebutan ini pertama kalinya digunakan para pengritiknya dari kalangan ekonom mainstream, seperti Eugen von Böhm-Bawerk. Menjadi tambah populer ketika ekonom Marxist Rudolf  Hilferding, memberikan kritik atas kritiknya Böhm-Bawerk terhadap Marx tersebut (Hiroyoshi, 2005:81).
TNK menjadi kontroversial, karena posisinya yang sangat fundamental dalam bangunan teori ekonomi politik Marx. Seperti dikemukakan Andrew Glyn, konsepsi tentang nilai, keuntungan, dan eksploitasi (value, profit and exploitation), merupakan salah satu dari tiga pilar utama bangunan ekonomi Marxist. Dua pilar lainnya adalah teori tentang proses kerja (the labour process) dan teori tentang akumulasi kapital dan krisis  (capital accumulation and crises) (Glyn inEatwall et.al, 1990:274-75). Hal senada dikemukakan  Rubin (1990:xxix) bahwa teori tentang pemujaan komoditi (commodity fetishism) dan lebih khusus lagi TNK, merupakan basis dari keseluruhan sistem ekonominya Marx. Lebih lanjut dikatakannya, hanya setelah kita menemukan basis dari TNK, barulah kita bisa memahami apa yang Marx tulis dalam bab pertama Capital Volume I (ibid:61). Mungkin ini sebabnya, mengapa Fine dan Harris (1979:34) sampai mengatakan, ‘menolak TNK sama artinya dengan menolak metode Marx.’
Karena posisinya yang sangat fundamental itu, TNK menjadi sasaran empuk para pengritik teori ekonomi Marxis. Di kalangan Marxis sendiri perdebatan mengenai teori ini tak kalah serunnya. Namun demikian, tulisan ini tidak akan masuk pada kontroversi itu. Tujuan tulisan ini untuk menunjukkan bagaimana Marx menjabarkan teori nilai  dan melihat lebih jauh esensi dari teori ekonomi politik Marxis.[1]
***
Baik, mari kita mulai Kajian ini dengan mengutip geografer David Harvey.  Dalam salah satu buku terkenalnya The Limits to Capital  Harvey mengatakan, kita tidak akan bisa menafsirkan apa itu nilai (value) tanpa terlebih dahulu memahami pengertian tentang nilai-guna (use-value) dan nilai-tukar (exchange-value). Demikian sebaliknya, mustahil menafsirkan dua nilai terakhir tanpa memahami apa itu nilai. Masih menurut Harvey, Marx tidak pernah memperlakukan masing-masing konsep itu secara terisolasi, tapi senantiasa memfokuskan ketiganya dalam sebuah relasi yang mungkin: antara nilai-guna dan nilai-tukar, antara nilai-guna dan nilai, dan antara nilai-tukar dan nilai ((2006:2).
Kita ikuti perlahan maksud Harvey ini. Dalam kapitalisme, tujuan utama dari produksi komoditi bukan untuk memenuhi kebutuhan manusia secara langsung, melainkan untuk mengakumulai keuntungan setinggi-tingginya tanpa henti melalui pasar. Melalui pasar itulah orang lantas memenuhi kebutuhannya. Misalnya, ketika seorang kapitalis membuka usaha restoran, tujuan utamanya bukanlah memberi makan orang yang belum makan, melainkan menjual hasil masakannya itu kepada pembeli yang bisa membayar sesuai harganya. Tetapi, agar komoditi itu bisa dipertukarkan/diperjualbelikan maka komoditi tersebut pertama-tama harus memiliki nilai-guna. Dalam contoh pengusaha restoran tadi, nilai-guna masakannya itu adalah untuk mengenyangkan si pembeli. Dengan demikian, nilai-guna berurusan dengan persoalan personal, soal selera individual. Semakin masakan itu enak dan mengenyangkan si pembeli individual, maka ia akan sukarela mengeluarkan uangnya untuk membeli masakan tersebut.
Dan seperti yang telah kita diskusikan di bagian pertama Kajian ini, baik nilai-guna maupun nilai-tukar melekat pada satu komoditi yang sama. Dengan begitu, komoditi bukanlah sebuah barang kepemilikan yang bersifat ‘natural,’ melainkan barang kepemilikan yang bersifat ‘sosial.’  Artinya, hanya dalam masyakat dimana barang-barang itu dipertukarkan maka barang tersebut memiliki nilai-tukar, yakni barang tersebut merupakan komoditi (Heinrich, 2012:40). Kalau kita ambil contoh masakan di atas, maka masakan tersebut memiliki ‘bentuk natural’ karena ia terdiri dari sejumlah barang seperti nasi, ikan, sayur, sambal, air, dst yang terasa enak dan mengenyangkan. Tetapi, masakan tersebut berubah menjadi ‘bentuk sosial’ karena  masakan itu telah menjadi komoditi, bahwa masakan itu dipertukarkan dan karenanya ia memiliki ‘nilai-tukar.’ Singkatnya, masakan itu menjadi komoditi tidak dicirikan oleh masakan itu sendiri melainkan oleh sistem sosial dimana masakan (barang) itu eksis (ibid., h.41). Dalam hal ini Marx sedang membicarakan tentang sistem sosial (masyarakat) kapitalis.
Nah, sekarang kalau kita pergi ke pasar maka di sana kita jumpai seribu satu macam jenis komoditi yang saling dipertukarkan setiap harinya. Jika Anda tertarik dan punya uang maka komoditi itu segera berpindah tangan menjadi milik Anda. Dan ada begitu banyak orang seperti Anda yang lalu-lalang di pasar, baik teman, keluarga, handai-tolan, maupun orang yang sama sekali tidak kita kenal.
Pertanyaannya kemudian, apa yang menyebabkan beragam jenis komoditi itu bisa saling dipertukarkan?  Misalnya, jika sepasang sepatu di tukar dengan sekilo beras, dan semeter kain, dst, apa yang membuat pertukaran itu menjadi mungkin? Atau, apa yang menyebabkan saya atau Anda membeli celana jeans dan orang lain membeli jam tangan, serta orang lainnya lagi membeli buku? Tentu saja jawabannya karena barang-barang itu memiliki nilai. Dalam contoh di atas, maka sepasang sepatu itu memiliki nilai yang setara dengan sekilo beras dan semeter kain. Artinya, barang-barang ini memiliki nilai yang sama. Ketika Anda beli celana jeans dan orang lain beli jam tangan, maka pada diri Anda dan orang lain tersebut kedua barang itu memiliki nilai yang sama.
Tetapi, apa nilai yang sama yang melekat pada komoditi yang saling dipertukarkan tersebut? Jauh sebelum Marx, para ahli ekonomi politik coba memberikan jawaban bahwa nilai suatu barang ditentukan oleh kegunaannya (usefulness):  untuk barang yang sangat berguna buat kita maka kita bersedia membayarnya seberapa pun besar ongkos yang dibutuhkan. Bahkan, jika perlu, nyawa kita dan nyawa orang lain kita korbankan. Begitu sebaliknya, jika barang tersebut kurang kegunannya buat kita, jelas kita tak akan membelinya atau kalau terpaksa maka kita akan menawar barang tersebut semurah mungkin. Masuk akal bukan? Tetapi yang masuk akal tidak berarti benar.
Adalah bapaknya ekonom Adam Smith yang menunjukkan ketidakbenaran hal yang masuk akal itu,  melalui pemisalannya tentang air. Katanya, tidak ada yang membantah betapa  bermanfaatnya air buat kita, bahwa kita tidak bisa hidup tanpa air, tetapi nilai air sesungguhnya sangat kecil (jika Smith hidup di zama kita, tentu ia akan merevisi contohnya tentang air ini, sebab kini air telah menjadi komoditi seperti halnya beras). Bandingkan dengan berlian, dimana manfaatnya buat kita terbatas (kita tak akan mati jika tak pakai berlian) tetapi nilainya sangat besar (Heinrich,op.cit, h.42). Kenapa bisa demikian?
Marx mengatakan, ketiga komoditi itu bisa saling dipertukarkan karena ketiganya memiliki skala (magnitude) yang identik. Selanjutnya ia mengatakan: (1) validitas nilai-tukar sebuah komoditi tertentu mengekspresikan sesuatu yang setara; (2) nilai-tukar tidak bisa tidak melainkan sebuah corak ekspresi (mode of expression), ‘bentuk yang tampak (form of appearance),’ dari isi yang berbeda (Capital, h.127). Ia memberikan contoh, jika dua produk dipertukarkan, katakanlah 1kg baja ditukar dengan 1 karung jagung, maka pertukaran di antara keduanya terjadi karena ada sesuatu yang merepresentasikan kesetaraan, sehingga 1kg baja = 1karung jagung, dan kesetaraan yang melekat pada masing-masing produk itu, sejauh masih dalam konteks nilai-tukar, bisa diredusir pada produk yang ketiga (Capital, ibid). Sederhananya, jika kualitas bersama itu tidak ada, tidak mungkin terjadi pertukaran di antara barang-barang tadi.
Sampai di sini, gagasan Marx tentang pertukaran ini bisa ditelusur akarnya pada pemikiran Aristoteles, yang mengatakan, pertukaran tidak akan terjadi tanpa kesetaraan (equality), dan kesetaraan tidak mungkin ada tanpa adanya standar ukuran yang sama (commensurability).
Apa standar ukuran yang sama itu? Menurut Marx, elemen yang sama itu tidak bisa berbentuk geometrik, fisikal, kimiawi, atau komoditi-komoditi yang dihasilkan oleh alam. Misalnya, ukuran alamiah itu adalah panjang, berat, kepadatan, warna, ukuran, sifat molekul, dsb. Apakah 1kg beras sama kualitasnya dengan 1kg emas, yang memungkinkan keduanya dipertukarkan? Tentu saja tidak! Singkatnya, apapun yang membuat kualitas fisik atau kimiawi yang melekat pada komoditi, pasti menentukan nilai guna komoditi tersebut, karena itu memiliki nilai-guna relatif, tetapi itu bukan nilai-tukar. Nilai-tukar, mesti dipisahkan (abstracted) dari apapun yang mengandung kualitas fisik alami dari komoditi (Mandel, 2006:36).
‘Kita telah melihat, ketika komoditi berada dalam hubungan pertukaran, nilai-tukar mereka manifes (menjelma) pada dirinya sendiri sebagai sesuatu yang secara total independen dari nilai-guna mereka. Tetapi, jika kita memisahkan nilai-guna komoditi tersebut, yang tetap darinya adalah nilai, sebagai sesuatu yang baru saja didefinisikan. Oleh sebab itu, faktor bersama dalam hubungan pertukaran, atau di dalam nilai-tukar sebuah komoditi, adalah nilai itu sendiri’ (Capital, h.128).[2]
Dengan demikian, nilai tukar tidak lain adalah corak ekspresi yang dibutuhkan (necessary mode of expression), atau bentuk yang tampak (form of appearance) dari nilai (Capital, loc.cit). Tetapi, darimana nilai itu berasal? Di sinilah Marx menimba inspirasinya dari Adam Smith dan David Ricardo. Kembali pada contoh air dan berlian yang dikemukakan Smith sebelumnya, berlian menjadi lebih bernilai dari air karena ‘kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi kedua barang ini berbeda.’ Lebih konkretnya adalah ilustrasi paling terkenal dari Smith berikut,
‘Jika dalam sebuah masyarakat yang hidupnya tergantung pada berburu, sebagai contoh, maka biasanya ongkos (cost) kerja untuk membunuh berang-berang (beaver) adalah dua kali lipat ketimbang yang dibutuhkan untuk membunuh rusa (deer), maka satu berang-berang seharusnya nilainya sama dengan dua ekor rusa. Adalah wajar jika apa yang biasanya diproduksi selama dua hari atau dua jam kerja, semestina dihargai dobel dengan apa yang biasanya diproduksi dalam satu hari atau satu jam kerja’ (Vianello, in Eatwell et.al, op.cit, 233) .
Ricardo sendiri mengatakan, ‘nilai sebuah komoditi, atau kuantitas dari setiap komoditi lainnya yang memungkinkannya dipertukarkan, tergantung pada kuantitas relatif dari kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi tersebut, bukan pada besar-kecilnya kompensasi yang dibayarkan kepada buruh tersebut’ (Meek, 1956:97).  Di sini, baik Smith maupun Ricardo mengidentikkan nilai dengan  kerja.
Konsep ini kemudian diadopsi Marx. Dalam karyanya Value, Price anf Profit (VPP) ia secara jelas mengatakan substansi sosial bersama yang dikandung oleh komoditi yang saling dipertukarkan itu adalah kerja. ‘Untuk memproduksi sebuah komoditi,’ tulisnya dalam VPP, ‘maka dibutuhkan tenaga kerja untuk itu atau ada kerja yang dikeluarkan terhadapnya’ (Zarembka, ed., 2000:14). Ia memberikan contoh: satu ons emas, satu ton besi, seperempat kg terigu, dan 20 yards sutra, adalah nilai-tukar dengan ukuran yang setara. Sebagai nilai-tukar, jika perbedaan kualitatif dari nilai-guna ketiganya dihilangkan, maka yang tersisa dari ketiganya adalah representasi jumlah yang setara dari kerja yang sama (Critique, h.29). Tesis ini dipertegasnya dalam Capital, bahwa  nilai-guna atau barang yang berguna hanya memiliki nilai karena kerja manusia dalam bentuk abstrak  atau disebut juga waktu kerja sosial (social necessary labour)  yang melekat atau termaterialisasikan ke dalamnya (Capital, h.129). Dalam VPP ia menjelaskan dengan kalimat yang berbeda,
‘Dan aku mau bilang tidak hanya Kerja (Labor), tetapi Kerja Sosial (Social Labor). Manusia yang memproduksi sebuah barang untuk memenuhi kebutuhan mendesaknya, untuk dikonsumsinya sendiri, maka ia menciptakan sebuah produk, tapi bukan sebuah komoditi. Sebagai produser yang mandiri ia tidak melakukan apa-apa yang berhubungan dengan masyarakat. Tetapi untuk memproduksi komoditi, maka manusia tidak hanya memproduksi barang untuk memenuhi kebutuhan sosial tertentu, tetapi kerjanya itu sendiri harus menjadi bagian dan paket dari keseluruhan total kerja yang dikeluarkan masyarakat. Kerja itu mesti disubordinasikan di bawah Pembagian kerja dalam masyarakat (Division of labor within society). Tetapi ini tak akan berarti apa-apa tanpa pembagian kerja yang lain, dan bagian itu dibutuhkan untuk menyatukan mereka’ (Zarembka, op.cit, 14; huruf miring dari Marx).[3]
‘Sebuah benda bisa memiliki nilai-guna tanpa memiliki nilai. Dalam hal ini, adalah benda apapun yang bisa memuaskan kebutuhan manusia tapi tidak dimediasi melalui kerja. Udara, tanah perawan, padang rumput, hutan yang belum terjamah, dst, bisa dimasukkan dalam kategori ini’ (Capital, h. 131).[4]
Apa yang dimaksud dengan waktu kerja sosial ini? Marx menjawab,
‘Waktu-kerja sosial yang dibutuhkan socially necessary labour-time ) itu adalah waktu-kerja yang diperlukan untuk memproduksi setiap nilai-guna di bawah kondisi-kondisi produksi yang normal dalam masyarakat dan dengan rata-rata derajat keahlian dan intensitas kerja yang lazim dalam masyarakat (Capital, h.129).[5]
Tapi, kini kita dihadapkan pada pertanyaan baru, bagaimana mengukur kerja abstrak tersebut? Kita telah tahu bahwa nilai-guna tidak bisa dijadikan ukuran, karena nilai-guna merupakan hubungan personal antara manusia dengan benda. Karena saya suka I-phone dan Anda lebih tertarik pada Blackberry,  maka  ukuran nilai-guna ini tidak bisa menjelaskan mengapa komoditi secara konsisten dipertukarkan dalam rasio yang stabil. Ini berbeda dengan kerja manusia yang melekat pada komoditi yang bisa diukur secara obyektif, yang secara kuantitas diukur berdasarkan durasi kerja atau waktu kerja (labour-time) dan tenaga kerja itu sendiri diukur dalam skala tertentu seperti jam, hari, minggu, dst. (Capital: h.129).
Tetapi, jika nilai sebuah komoditi diukur berdasarkan waktu kerja yang dibutuhkan (necessary-labour time) untuk memproduksinya, di sini kita akan langsung berhadapan dengan soal yang membuat kita tampak bodoh: semakin lambat (idle), malas (lazy), dan tidak terampilnya seorang buruh (unskilled labor/simple labor)), maka semakin besarlah nilai dari komoditi yang diproduksinya, karena semakin panjang waktu yang dihabiskannya untuk memproduksi komoditi tersebut. Sebaliknya, nilai dari komoditi yang dihasilkan oleh buruh terampil (skilled labor/complex labor) lebih kecil karena waktu yang digunakan untuk memproduksi komoditi tersebut lebih kurang.
Untuk memperjelas pertanyaan ini, mari kita lihat ilustrasi matematis dari Edward B. Aveling berikut: katakanlah  V adalah simbol dari nilai, dan Q adalah simbol dari kuantitas kerja yang melekat pada komoditi. Karena nilai sebuah komoditi bergantung pada kerja manusia yang melekat padanya, maka makin besar Q, makin besar pula V; begitu sebaliknya.
Hubungan ini disimbolkan menjadi V ∞ Q.
Kini, kita masukkan variabel produktivitas kerja, yang oleh Aveling diberi simbol P. Jika P berkurang, maka waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi (Q) bertambah, dengan demikian, V juga bertambah; sebaliknya, jika P bertambah maka Q berkurang dan otomatis V pun berkurang. Artinya, V tidak berkaitan langsung dengan P tetapi, merupakan kebalikannya.
Hubungan kedua ini disimbolkan menjadi V ∞ 1/P.
Jika kedua pernyataan ini digabung, V ∞ Q dan V ∞ 1/P, maka kesimpulannya, nilai sebuah komoditi berhubungan langsung dengan kuantitas waktu kerja yang melekat padanya dan berkebalikan dengan produktivitas kerja yang ditentukan oleh perkembangan ilmu pengetahuan, kondisi-kondisi fisik dan sosial, dsb. (Avelling, 2005:2-3).
Apa konsekuensi logis dari teori ini? Karena nilai komoditi ditentukan oleh waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya, maka buruh akan berlomba-lomba untuk menjadi malas dan enggan untuk meningkatkan kertrampilannya agar bayarannya semakin besar. Tidak ada motivasi berprestasi, karena tidak ada insentif bagi mereka yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang spesifik. Kesimpulannya, teori nilai  Marx bukan hanya lucu tapi sepenuhnya salah karena tidak mengindahkan kualitas individual dari setiap pekerja.
Konsekuensi lain dari teori ini adalah  direduksinya tenaga kerja terampil (skilled labour) menjadi tenaga kerja tidak terampil (unskilled labour). Meek (op.cit:168) memberikan contoh terhadap masalah ini: rata-rata tingkat keterampilan (average degree of skill) boleh jadi dominan di satu industri pada waktu tertentu, tapi menjadi subordinatif di waktu yang lain; dan keseimbangan harga komoditi yang diproduksi oleh buruh yang relatif lebih terampil secara umum lebih mahal, dalam hubungannya dengan jumlah jam kerja yang dikeluarkan untuk memproduksi barang tersebut, ketimbang dengan komoditi yang diproduksi oleh buruh yang relatif tidak terampil.
Bagaimana Marx menjelaskan  soal ini? Menyambung penjelasannya soal nilai,  dalam Value, Price, and Profit, Marx mengatakan,
‘Kamu mungkin masih ingat bahwa aku menggunakan kata ‘kerja sosial,’ dan banyak hal yang berkaitan dengan kualifikasi ‘sosial’ ini. Dengan mengatakan bahwa nilai sebuah komoditi ditentukan oleh kuantitas kerja yang dipekerjakan atau yang mengkristal di dalamnya, kita maksudkan kuantitas  kerja yang dibutuhkan untuk produksi dalam masyarakat yang ada, di bawah rata-rata kondisi produksi sosial tertentu, dengan intensitas rata-rata masyarakat saat itu, dan rata-rata ketrampilan buruh yang dipekerjakan. Ketika di Inggris, mesin tenun datang berkompetisi dengan tenun tangan, maka pada yang pertama hanya setengah waktu kerja yang dibutuhkan untuk memindahkan sejumlah benang tenun menjadi kapas atau kain. Tukang tenun tangan yang miskin kini terpaksa bekerja 17 atau 18 jam sehari, ketimbang bekerja selama 9 atau 10 jam sehari seperti sebelumnya. Namun demikian produk dari 20 jam kerjanya kini hanya  merepresentasikan 10 jam kerja, atau  10 jam dari kerja sosial yang dibutuhkan untuk mengkonversi sejumlah tertentu kapas menjadi bahan-bahan tekstil. Produk dari 20 jam, dengan demikian tak lagi bernilai dibandingkan dengan produk yang dihasilkannya dalam 10 kerja sebelumnya’ (Zarembka, op.cit, h.16; huruf miring dari Marx).[6]
Dari kutipan ini kita temui dua keadaan: pertama, jika kuantitas kerja sosial yang dibutuhkan  terealisasi dalam pengaturan komoditi yang memiliki nilai-tukar adalah konstan, nilai dari komoditi tersebut adalah juga konstan. Jika perusahaan A secara konstan memiliki 10 orang buruh untuk memproduksi 100 kemeja setiap harinya, maka nilai dari produksi kemeja tersebut tidak berubah. Kini kita masukkan unsur perkembangan teknologi ke dalam perusahaan A tersebut, maka konsekuensinya perusahaan A yang mempekerjakan 10 orang buruh tersebut kini memproduksi 200 kemeja setiap harinya dengan waktu kerja yang jauh lebih sedikit ketimbang sebelumnya. Akibatnya, nilai tambah dari kemeja tersebut semakin berkurang, sehingga hasilnya kemudian nilai dari komoditi tersebut juga semakin rendah.
Dari kutipan ini kita temui dua keadaan: pertama, jika kuantitas kerja sosial yang dibutuhkan terealisasi dalam pengaturan komoditi yang memiliki nilai-tukar adalah konstan, nilai dari komoditi tersebut adalah juga konstan. Jika perusahaan A secara konstan memiliki 10 orang buruh untuk memproduksi 100 kemeja setiap harinya, maka nilai dari produksi kemeja tersebut tidak berubah. Kini kita masukkan unsur perkembangan teknologi ke dalam perusahaan A tersebut, maka di sini perusahaan A dihadapkan pada dua pilihan: (1) jika ia ingin mempertahankan jumlah produksinya 100 kemeja setiap harinya, maka ia harus mengurangi jumlah buruhnya dari 10 menjadi kurang dari 10 orang; (2) ia mempertahankan 10 buruhnya tapi jam kerjanya dikurangi; atau (3) ia mempertahankan 10 buruhnya dengan jam kerja yang seperti semula dan hasilnya kini perusahaannya memproduksi 200 kemeja setiap harinya. Apapun pilihannya, nilai komoditi tersebut kini tidak lagi konstan, dimana nilai dari kemeja tersebut menjadi lebih rendah.
Kedua, Marx selalu berbicara tentang sistem produksi kapitalisme dalam sebuah totalitas, bukan bagian per bagian, atau wilayah per wilayah secara terisolasi. Ketika ia mengatakan waktu kerja sosial yang dibutuhkan, hal itu bermakna waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi nilai dalam sebuah totalitas sistem sosial kapitalistik yang eksploitatif, kompetitif, revolusioner, ekspansif, serta krisis internal yang tak terdamaikan antara produk yang semakin tersosialisasi versus akumulasi profit yang makin tersentralisasi. Dengan demikian, ketika perusahaan A dalam contoh di atas mengintrodusir input teknologi dan hukum kerja yang baru, maka perusahaan lainnya yang memproduksi barang sejenis dengan perusahaan A juga akan melakukan hal yang sama agar tetap eksis dalam sistem ini. Demikian seterusnya hal ini berlangsung pada level cabang produksi, wilayah, negara, dan seterusnya. Karena tingkat teknologi, modus organisasi produksi, dst., relatif serupa, maka jam kerjanya juga tak jauh berbeda dan bisa dirata-rata.
Tetapi masih ada hal yang belum begitu terang di sini, yakni penekanan Marx kerja sosial. Apakah yang dimaksudkannya adalah antitesa kerja individual? Di sini, kita kerap bertemu dengan kesalahpahaman luar biasa dalam memahami teori nilai Marx. Jika kita  membaca teori nilai secara vulgar, bahwa nilai komoditi diukur dari berapa banyak jumlah  kerja yang dibutuhkan untuk memproduksinya,  maka kita pada akhirnya akan menempatkan jumlah kerja itu ke dalam lajur biaya (cost) produksi dalam tabel cost-benefit. Artinya, kita kemudian menempatkan tenaga kerja setara dengan faktor-faktor produksi lainnya, seperti mesin, tanah, bangunan, dst. Tanpa sadar  kita kembali pada postulat ekonomi non-Marxis bahwa nilai sebuah komoditi ditentukan oleh seberapa bergunanya barang itu buat kita.
Dalam bahasa Heinrich(op.cit, 45-47), jika nilai sebuah komomditi  dilihat terutama  pada seberapa banyak waktu kerja yang dibutuhkan untuk memproduksi komoditi tersebut, maka Marx sesungguhnya tidak pernah melangkah lebih jauh dari pandangannya para ekonom klasik. Judul bukunya bukan lagi Capital A Critique of Political Economy,melainkan Capital An Explanation of Political Economy.   Penjelasan yang berangkat dari posisi ini pada akhirnya membuat kita terjebak pada pertimbangan-pertimbangan rasional individu yang terisolasi. Ekonom  neoklasik modern juga bertolak dari pengandaian yang sama bahwa maksimalisasi kegunaan individual (utility-maximizing individual), merupakan titik berangkat untuk menjelaskan hubungan pertukaran yang berbasis pada estimasi kegunaan. Dari titik berangkat individu yang terisolasi ini, baik ekonom klasik maupun neoklasik kemudian berusaha menjelaskan keseluruhan perkembangan masyarakat.  Pada mula dan akhirnya adalah individu
Menurut Heinrich, Marx sebaliknya mengatakan bahwa masyarakat bukanlah hasil dari penjumlahan individu-individu yang terisolasi satu sama lain,  sehingga kualitas individu menentukan kualitas masyarakat. Yang fundamental bagi Marx adalah  hubungan sosial (social relations) dimana individu itu melekat, sehingga individu di sini mesti menyesuaikan dirinya dengan kondisi-kondisi sosial dimana ia eksis. Jika ia gagal menyesuaikan diri maka ia akan tergilas dari hubungan sosial tersebut.
‘Dalam produksi sosial dari keberadaannya, manusia tak terelakkan masuk ke dalam hubungan tertentu, yang independen dari keinginannya, yakni hubungan produksi yang sesuai dengan tahapan tertentu perkembangan kekuatan produksi materialnya’ (Critique, h.21).[7]
Mari kita ambil contoh konkret berikut. Dalam kapitalisme, untuk bisa hidup individu tersebut harus mengikuti logika masyarakat kapitalis, bahwa produksi terutama ditujukan untuk akumulasi kapital tanpa batas yang dimediasi oleh pasar yang impersonal. Sebagai pengusaha, misalnya, Anda tidak bisa seenak perutnya menjual komoditi Anda tanpa mengindahkan tingkat harga, bunga bank, dan persaingan dengan pengusaha lainnya yang ada di sekeliling Anda. Jika Anda tidak peduli dengan kondisi-kondisi tersebut, misalnya, dengan menjual barang lebih mahal dari pesaing Anda atau menjual barang semurah-murahnya karena rasa belas kasih pada si miskin, maka bisa dipastikan bisnis Anda akan gulung tikar. Dengan demikian, untuk bisa memenangkan kompetisinya di pasar maka Anda harus terus-menerus meningkatkan produktivitas kerja buruh setinggi-tingginya dengan tingkat upah serendah-rendahnya.  Eksploitasi kapital terhadap buruh dengan demikian merupakan keniscayaan terlepas dari urusan moral individu kapitalis. Demikian juga bagi seorang buruh individual. Ia memang seorang individu bebas, ia bisa bekerja atau tidak bekerja sekehendak hatinya tanpa ada yang bisa memaksanya. Tapi, untuk bisa hidup dan meningkatkan potensi-potensi kemanusiaannya, mau tak mau ia harus bekerja, menjual tenaganya kepada si kapitalis. Tapi, ia pun bisa berhenti dari pekerjaannya pada  individu kapitalis tertentu dan pindah ke individu kapitalis lainnya sesuka hatinya. Ia bebas berpindah dari satu kapitalis ke kapitalis lainnya, tapi ia tidak bisa keluar dari sistem produksi kapitalis tersebut. Di sini pertimbangan rasionalitas individual menyesuaikan dirinya dengan kondisi hubungan sosial yang melingkupinya.
Dengan kata lain, teori nilai Marx tidak berurusan dengan pertimbangan-pertimbangan mereka yang terlibat dalam proses pertukaran secara individual. Tidak juga nilai sebuah komoditi berkorespondensi dengan waktu kerja sosial yang dibutuhkan untuk produksi hanya karena  mereka yang terlibat dalam pertukaran menghendakinya. Apa yang hendak Marx tuju dengan teori ini adalah menjelaskan struktur sosial yang khusus dimana individu harus menyesuaikan diri dengannya, tanpa menghiraukan apa yang sebenarnya mereka pikirkan (huruf miring dari Heinrich). Singkatnya, teori nilai bukanlah ‘bukti’ bahwa tindakan pertukaran individual ditentukan oleh produktivitas waktu kerja sosial yang dibutuhkan. Sebaliknya, ia hendak menjelaskan karakter sosial khusus dari kerja yang memproduksi komoditi. Dari sini kita kemudian bisa mengetahui perbedaan Marx dengan kalangan ekonom klasik dan neoklasik:
‘Adam Smith mengobservasi satu tindakan pertukaran dan bertanya bagaimana akhir dari pertukaran bisa ditentukan. Marx melihat hubungan pertukaran individual sebagai bagian dari totalitas masyarakat – sebuah totalitas dimana reproduksi masyarakat diperantarai oleh pertukaran – dan bertanya apa artinya ini bagi kerja yang dikeluarkan  oleh seluruh masyarakat’ (Heinrich, 47).
Dari pemaparan Heinrich ini, maka penjelasan Rubin bahwa ‘teori nilai tidak berurusan dengan kerja sebagai sebuah faktor teknikal produksi, tapi dengan aktivitas kerja orang-orang sebagai basis bagi kehidupan sosial, dan dengan bentuk-bentuk sosial dalam mana kerja itu hadir’(ibid:82) menjadi benar adanya.  Dengan kata lain, esensi dari teori nilai adalah menempatkan hubungan antar manusia sebagai hal yang pertama dan terutama, bukan hubungan antara manusia dengan benda, apalagi hubungan di antara benda-benda. Ronald E. Meek (opcit: 145), memberikan deskripsi yang menarik soal esensi ini, dengan menekankan bahwa nilai, bagi Marx, menampakkan dirinya dalam wujud ekspresi hubungan produksi di antara manusia (production relation between man) dalam masyarakat kapitalis. Inilah inti dari ekonomi Marxian,
‘ilmu ekonomi tidak berurusan dengan benda-benda tapi dengan hubungan di antara person, dan pada akhirnya, hubungan di antara kelas-kelas; namun demikian, hubungan tersebut selalu melekat pada benda-benda dan tampak sebagai benda-benda’ (Engels in Howard & King, 1985:43; huruf miring dari Engels).
***
Sekarang, kita memasuki satu persoalan lain berkaitan dengan kerja ini. Ketika Marx bicara kerja, maka yang terang ia bicara adalah kerja yang memproduksi komoditi yang melulu berkaitan dengan hal-hal yang bersifat fisikal,  yakni barang-barang yang bersifat material. Bagaimana dengan mereka yang bekerja tapi tidak memproduksi barang-barang material? Misalnya, mereka yang bekerja di sektor jasa pelayanan dan keuangan, seperti sopir taksi, teller bank, penjaga keamanan, atau konsultan bisnis?
Perkara kerja imaterial ini, terutama dalam perkembangan kapitalisme finansial saat ini, dianggap tidak bisa lagi dijelaskan oleh teori nilai Marx. Dan karena itu Marxisme tidak lagi relevan, karena unit analisanya adalah kapitalisme industrial yang terbatas pada lokasi pabrik tertentu.
Untuk mengatasi soal ini,  mari kembali menengok  tesis Harvey yang tertera pada bagian awal artikel ini. Awalnya kita mengetahui bahwa komoditi memiliki dua aspek: nilai-guna dan nilai-tukar. Agar komoditi bisa dipertukarkan maka ia harus memiliki nilai-guna, yang disebut sebagai nilai-guna sosial. Nilai-tukar itu sendiri merupakan pencerminan dari sesuatu, yang kata Marx, pencerminan dari nilai. Dan nilai tidak lain adalah waktu kerja sosial yang dibutuhkan. Tetapi nilai tidak berarti apapun kecuali jika ia berhubungan kembali dengan nilai-guna. Nilai-guna dengan demikian adalah kebutuhan sosial bagi nilai.

Nah berkaitan dengan kerja imaterial, jika kita membatasinya sekadar bahwa ia memiliki nilai-guna, maka terang sudah bahwa aktivitas pelayanannya itu bukan sebuah komoditi. Tapi, sekali lagi, ini bukan definisi Marx, melainkan definisinya ekonom non-Marxis. Bagi Marx, seperti yang telah kita diskusikan di atas, komoditi tidak dicirikan bentuk naturalnya (kini bisa kita tambahkan bentuk fisikalnya) melainkan oleh sistem sosial dimana komoditi itu eksis. Ketika aktivitas pelayanan itu telah diperjualbelikan, secara otomatis ia merupakan komoditi. Tentu saja ada perbedaan antara produk material dan produk imaterial, yakni pada hubungan temporal antara produksi dan konsumsi (Heinrich, op.cit., h.44). Jika pada produk material maka ia harus diproduksi terlebih dahulu lalu dikonsumsi, sementara produk imaterial antara tindakan produksi dan konsumsi terjadi secara berbarengan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar