BELAJAR, BERSATU, BERJUANG BERSAMA RAKYAT!!! SIAP SEDIA!!!

Rabu, 11 November 2015

HARI PAHLAWAN, MANA WARNA PERJUANGAN MU???

10 November itu peringatan apa? Yap!!! Hari Pahlawan. Bagaimana kamu mengapresiasinya??? Sejauh mana kau tahu sejarahnya??? Dan bagaimana dialektika mu, pegerakan mu??? Sudah progresifkah?

Historis Hari Pahlawan 10 November:

10 November 1945 adalah peristiwa pertempuran terdahsyat paska proklamasi kemerdekaan Indonesia pertama di Surabaya. Hari itu, Inggris mengempur habis-habisan baik dari darat, laut dan udara Surabaya paska ultimatum atas tewasnya Brigjen A.W.S. Malllaby, Panglima Brigade ke-49, Divisi India ke-23 pada 30 Oktober 1945.
Pada 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dan kemudian 8 Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang, maka Jepang lah yang justru gantian menjajah  Indonesia. Pada 9 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat kepada tentara sekutu setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota besar Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Kekosongan kekuasaan pun terjadi, guna mengisi kekosongan tersebut Soekarno-Hatta pun memilih segera  memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Rakyat/para pejuang  Indonesia berupaya untuk melucuti senjata-senjata tentara Jepang hingga menimbulkan berbagai pertempuran dan  menelan banyak korban jiwa.
Ketika gerakan melucuti senjata tentara Jepang sedang berkobar, 15 September 1945 tentara Inggris rupanya mendarat di Jakarta dan tiba di Surabaya pada 25 Oktober 1945. Kedatangan tentara Inggris ke Indonesia adalah atas nama sekutu. Tugasnya  melucuti  tentara Jepang, membebaskan para tawanan Jepang lalu memulangkannya kembali ke negerinya. Namun kenyataannya tentara Inggris membawa misi mengembalikan Indonesia kepada  Belanda sebagai jajahannya. Netherlands Indies Civil Administration (NICA) membonceng hingga membuat rakyat Indonesia yang awalnya menerima menjadi tersulut amarahnya.
Hal ini semakin menjadi-jadi, rakyat semakin marah setelah dikibarkannya bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di Hotel Yamato Surabaya hingga terjadilah “Insiden Tunjungan”, menyulut berkobarnya berbagai bentrokan bersenjata antara  Inggris dan (pejuang) Indonesia. Ditambah terbunuhnya pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur, Brigadir Jenderal Mallaby, dimana diberitakan Brigadir Jenderal Mallaby gugur pada 30 Oktober 1945 pukul 20.30 WIB. Maka hal tersebut memicu bentrokan bersenjata semakin memuncak hingga membuat penggantinya Mayor Jenderal Mansergh marah besar  dan lalu  mengeluarkan “ultimatum”.

"The above crimes against civilization cannot go unpunished. Unless, therefore, the following orders are obeyed without fail by 06.00 hours on 10th November at the latest, I shall enforce them with all the sea, land and air forces at my disposal, and those Indonesians who have failed my orders will be solely responsible for the bloodshed which must inevitably ensue.

("Kejahatan terhadap peradaban tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kecuali, apabila, perintah berikut ini dipatuhi tanpa syarat paling lambat pada pukul 06.00 tanggal 10 November, saya akan mengerahkan seluruh kekuatan pasukan laut, darat dan udara, dan orang-orang Indonesia yang telah gagal memenuhi perintah saya ini akan bertanggung jawab sepenuhnya atas pertumpahan darah yang mau tidak mau harus terjadi.") .

Memerintahkan seluruh pimpinan dan orang-orang Indonesia bersenjata  untuk melapor, segera menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas  (sebagai tanda menyerah) dan meletakkan senjatanya di tempat yang telah ditentukan. Namun hingga batas pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945 sama sekali  tak diindahkan para pejuang Indonesia. Karena ultimatum dinilai   sebagai penghinaan terhadap  perjuangan rakyat. Dimana  Republik Indonesia (RI) sudah berdiri, merdeka dan memiliki berbagai perangkat negara/pemerintahan. Sudah dibentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berbagai organisasi perjuangan rakyat, dari kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar. Menentang keras  kembalinya kolonialisme Belanda ke Indonesia.
Puncaknya pada pagi  hari pukul 10.00 WIB tentara Inggris yang berkekuatan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal perang mulai melancarkan serangan besar-besaran. Hujan serangan melanda kota Surabaya. Ribuan penduduk sipil  menjadi korban (meninggal dan  luka-luka). Tetapi, perlawanan para pejuang Indonesia yang didukung seluruh rakyat tetap berkobar di kota Surabaya,  Jawa Timur. Semula Inggris merasa beroptimisme bahwa perlawanan rakyat Indonesia bisa ditaklukkan dalam waktu singkat. Namun di luar dugaan Inggris, ternyata para tokoh masyarakat  terdiri dari kalangan ulama serta para Kyai Pondok Jawa, secara maksimal mengerahkan seluruh santri bersama rakyat, termasuk pelopor muda Bung Tomo  untuk berjuang memerangi tentara Inggris hingga titik darah penghabisan kendati hanya berbekal senjata “bamboe roentjing”. Perlawanan rakyat yang awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, namun semakin hari semakin terarah dan terideologis. Pertempuran berlangsung hingga lebih dari tiga minggu sampa satu bulan lamanya sebelum akhirnya Surabaya jatuh ke tangan Inggris. Korban yang tewas diperkirakan antara 6000 sampai 16.000 dari pihak Indonesia. Nyatanya peristiwa berdarah tersebut memotivasi semangat kebangsaan dan menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dari  bumi pertiwi guna mempertahankan kedaulatan  RI.
Setahun kemudian, 31 Oktober 1946 terbitlah penetapan pemerintah No. 9 Um/1946 yang meresmika hari itu 10 November sebagai hari pahlawan. PP tersebut ditandatangani oleh presiden Soekarno dan Menteri Pertahanan, Amir Sjarifoeddin. Namun adapula yang berpendapat bahwa penetapan hari pahlawan di lakukan oleh presiden Soekarno pada 1950. Banyaknya rakyat dan para pejuang Indonesia yang gugur di medan juang hingga menjadi korban, meninggal maupun luka-luka yang menjadikan Peristiwa 10 Nopember 1945 dikenang sebagai : “Hari Pahlawan”.

lantas bagaimana perjuanganmu kini???

Pendidikan telah melahirkan pengetahuan, bahasa, dan tulisan. Hal itu telah melahirkan kesadaran baru bagi bumiputera yakni “kemodernan” dan “kebebasan”. Di belahan dunia lain, gerakan pembebasan nasional dan gerakan kaum muda bangkit. Gerakan nasionalis bergolak di Tiongkok menumbangkan dinasti Ch’ing pada oktober 1911. di Turki juga muncul gerakan nasionalis oleh kaum muda dan pengaruh dari revolusi Rusia 1905. Berita-berita tersebut telah memberikan pengaruh kepada kebangkitan gerakan nasionalis di dalam negeri. Muncullah Serikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Serikat Islam (SI). Sementara itu, di Bandung pada 6 September 1912 dua mahasiswa lulusan Stovia, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat serta seorang Indo, E.F.E. Douwes Dekker, mendirikan Partai Hindia atau Indishe Partij (IP). Tidak ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negeri Belanda antara bulan Januari-Pebruari 1925 mendirikan Perhimpunan Indonesia (PI)—organisasi ini merupakan kelanjutan dari Indsche  Vereeniging. PI sangat dipengaruhi oleh ideologi marxisme yang sedang naik daun di Eropa dan juga banyak melakukan diskusi-diskusi dengan tokoh-tokoh komunis Indonesia seperti  Semaun.
Pegerakan mahasiswa sangatlah gencar berdasarkan historis terdahulu, namun lambat laun perjuangan kian meredup. Hal ini tertampak paska orde baru, gerakan ditahun 1978 merupakan akhir dari apa yang disebut “keistimewaan” terhadap mobilisasi mahasiswa. Soeharto benar-benar tidak bisa mentolerir lagi gerakan-gerakan yang dibuat mahasiswa, termasuk yang berbau “moral force”. Dewan Mahasiswa (DEMA) dibubarkan, semua kegiatan kemahasiswa yang berbau politik dilarang. Kebijakan ini diatur dalam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang diserap dari konsep Ali Moertopo tentang “massa mengambang”. Perguruan tinggi dirombak menjadi sebuah institusi yang hanya menempa mahasiswa menjadi Tenaga kerja murah dan pengabdi rejim Orde baru. pola-pola indoktrinasi diperkenalkan, seperti penataran P4, mata-kuliah, dan lain-lain. Untuk waktu yang cukup lama, kehidupan kampus dikontrol oleh KOPKAMTIB.
Melihat gejala ekonomi politik saat ini, kapitalisme telah berkembang biak menjadi imprealisme. Investasi asing berwatak akumulai, ekspansi dan eksploitasi terjadi. Dimana keadaan ini merugikan massa rakyat. Tidak ada kecenderungan penguatan kedaulatan rakyat. Dalam hal ini posisi rakyat dijadikan pasar dan konsumen sejati. Kita menjadi penonton di negeri sendiri. Bercermin pada masa lampau, pada prinsipnya penjajahan diatas dunia merupakan penindasan struktural melalui dominasi kaum dan l’exploitation de l’homme par l’homme (eksploitasi manusia diatas manusia). Dari penjuru dunia, kita masih mendengar kabar tangis lapar, tertindas, tercekik dan terbunuh. Masih banyak kaum-kaum termarjinalkan baik dari buruh, kaum tani, nelayan hingga kaum miskin kota. Bukti dari masih adanya penjajahan diatas bumi adalah masih banyak penggangguran, degradasi lingkungan, kemiskinan, perang dan ketidaksetaraan.
Suara-suara lantang pro perjuangan dibiaskan secara halus, pengkondisian gerakan telah menciptakan gerakan-gerakan yang sebatas memenuhi kepentingan segelintir semata. Adapun permasalahan atau penjajahan gaya baru (neokolonialisme) ini menjadi terlihat sebagai hal lumrah dan bukan lagi menjadi kewajiban pemuda pemudi untuk melakukan perlawanan terhadapnya. Terjadi pergeseran makna Hari Pahlawan sebatas ceremony penghormatan dengan wajib menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta 45 menit, tanpa kita menyadari betul apa yang dapat kita tarik dari momentum perjuangan pahlawan tersebut yaitu “Memerdekakan Manusia dan Bangsa”.
Dijaman yang kian modern ini, penjajahan bukanlah lagi dengan senjata sebagai mana para pahlawan kita terdahulu, penjajahan kini lebih mengarah kepada penghisapan manusia diatas manusia. Kita cermati bersama, perkebunan-perkebunan raksasa tidaklah dimiliki dan digarap dengan cara paksa layaknya jaman feodalisme?? Penjajahan gaya baru menyusup diam-diam dan menindas secara struktural. Ini tercermin dari habisnya lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang masif tergeser oleh industrial untuk pabrikasi dan sektor-sektor kapital lainnya, seperti perbankan, asuransi, hotel dan lainnya. Tanpa disadari imprealisme modern meraup habis dengan berlandaskan faktor ekonomi produksi. Hak-hak rakyat seakan-akan ditegakkan, namun dalam essensinya bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi kita tetaplah menjadi basis kepentingan para kapital. Inilah penjajahan gaya baru yaitu neoliberalisme. Penjajahan gaya baru dirasakan secara ekonomi-politik, sosial dan budaya sehingga mengkondisikan berbagai elemnen kehidupan massa rakyat.
Segala bentuk penindasan yang dialami setelah bangsa Indonesia merdeka, dan juga setelah bangsa-bangsa lain, merupakan agenda neoliberalisme, hal inilah yang oleh Soekarno dinyatakan sebagai neokolonialisme-imperialisme (nekolim). Penghisapan “ekonomi-politik” semacam inilah yang juga secara faktual dialami di Indonesia, dan juga di negara-negara lainnya yang secara geografisnya kaya akan bumi, air dan kekayaan alam terkandung di dalamnya.
Sistem ekonomi-politik paska reformasi bukannya membaik, malahan semakin membuka diri terhadap kepentingan opensif modal asing. Jika di masa orde baru, eksploitasi berlansung dengan sistem politik otoriter yang dilakukan oleh rejim orde baru beserta kroni dengan bergandengan dengan modal asing. Maka dimasa sekarang, eksploitasi dilakukan sepenuhnya dilakukan oleh kapital internasional dengan memanfaatkan beberapa elit politik didalam negeri. inilah yang kami sebutkan sebagai imperialisme, sebagai problem pokok perjuangan rakyat Indonesia.
Maka dari segala problematika masyarakat Indonesia, inilah lapangan perjuangan baru bagi gerakan mahasiswa. Terlepas dari begitu banyak persoalan yang muncul setiap hari, tetapi karakter pokok dari perjuangan mahasiswa haruslah anti-imperialisme. Ada kemajuan-kemajuan kecil dari segi gerakan, seperti tumbuh dan berkembangnya aksi massa dan metode-metode perlawanan rakyat, dalam hal program dan tuntuan sudah semakin maju meski belum utuh yakni anti-neoliberalisme. Kemajuan-kemajuan ini merupakan dasar-dasar yang bersifat maju, yang dapat diakumulasikan, guna memberikan arah perjuangan yang lebih maju dimasa depan. Berhadapan dengan situasi baru, gerakan mahasiswa tidak boleh kaku dalam menerapkan taktik-taktik dan metode perjuangan. Peluang-peluang dari perjuangan parlementer harus dimanfaatkan (bahkan bisa menjadi wajib) dalam situasi tertentu guna mengakumulasi sentimen anti-imperialis dan anti-neoliberal, serta memunculkan kekuatan politik alternatif. Dunia terus berubah, situasi terus bergerak, serta kita dituntut menyesuaikan hal itu dengan penemuan taktik-taktik dan metode-metode baru. Masihkan kita justru terjebak pengkondisian kapitalisme? Mari keluar bersama dan tetap berani di garis perjuangan terdepan dengan analisis yang matang. Mahasiswa adalah agent of change and agent of control!! Sekali lagi, hari pahlawan bukan lah ceremony belaka, momentum sesaat, namun member suntikan untuk tetap konsisten dengan pisau analissi yang matang, langkah gerakan yang terukur berbalut semangat progresif revolusioner.
Untuk memperbaiki pekerjaan massa daripada organisasi yang bersifat progresif revolusioner, kita senantiasa mengkombinasi pekerjaan berkobar-kobar dengan pekerjaan tekun. Namun, perlu disadari pula, ide-ide revolusi tak hanya sebatas bagaimana keberanian segelintir orang dengan toa, agitasi selebaran dan aksi massa berhadapatan dengan struktur rejim yang sangat massif, sebatas merespon momentum yang cepat. Dan kita pun harus menyadari sektarianise kiri adalah penyakit yang menghambat kemajuan gerakan revolusioner karena bersandar pada prangsangka subjektif tanpa adanya upaya membangun kritik dan perdebatan yang demokratis untuk persatuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar