10 November itu peringatan apa? Yap!!! Hari Pahlawan. Bagaimana kamu
mengapresiasinya??? Sejauh mana kau tahu sejarahnya??? Dan bagaimana dialektika
mu, pegerakan mu??? Sudah progresifkah?
Historis Hari Pahlawan 10 November:
10 November 1945 adalah peristiwa pertempuran terdahsyat paska proklamasi
kemerdekaan Indonesia pertama di Surabaya. Hari itu, Inggris mengempur habis-habisan
baik dari darat, laut dan udara Surabaya paska ultimatum atas tewasnya Brigjen
A.W.S. Malllaby, Panglima Brigade ke-49, Divisi India ke-23 pada 30 Oktober
1945.
Pada 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa dan kemudian 8
Maret 1942 Belanda menyerah kepada Jepang, maka Jepang lah yang justru gantian
menjajah Indonesia. Pada 9 Agustus 1945 Jepang menyerah tanpa syarat
kepada tentara sekutu setelah Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di dua kota
besar Jepang, Hiroshima dan Nagasaki. Kekosongan kekuasaan pun terjadi, guna
mengisi kekosongan tersebut Soekarno-Hatta pun memilih segera
memproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Rakyat/para
pejuang Indonesia berupaya untuk melucuti senjata-senjata tentara Jepang
hingga menimbulkan berbagai pertempuran dan menelan banyak korban jiwa.
Ketika gerakan melucuti senjata tentara Jepang sedang berkobar, 15 September
1945 tentara Inggris rupanya mendarat di Jakarta dan tiba di Surabaya pada 25
Oktober 1945. Kedatangan tentara Inggris ke Indonesia adalah atas nama sekutu.
Tugasnya melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan Jepang
lalu memulangkannya kembali ke negerinya. Namun kenyataannya tentara Inggris
membawa misi mengembalikan Indonesia kepada Belanda sebagai jajahannya.
Netherlands Indies Civil Administration (NICA) membonceng hingga membuat rakyat
Indonesia yang awalnya menerima menjadi tersulut amarahnya.
Hal ini semakin menjadi-jadi, rakyat semakin marah setelah dikibarkannya
bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di Hotel Yamato Surabaya hingga terjadilah
“Insiden Tunjungan”, menyulut berkobarnya berbagai bentrokan bersenjata
antara Inggris dan (pejuang) Indonesia. Ditambah terbunuhnya pimpinan
tentara Inggris untuk Jawa Timur, Brigadir Jenderal Mallaby, dimana diberitakan Brigadir Jenderal Mallaby gugur pada 30 Oktober 1945 pukul 20.30 WIB. Maka hal
tersebut memicu bentrokan bersenjata semakin
memuncak hingga membuat penggantinya Mayor Jenderal Mansergh marah besar
dan lalu mengeluarkan “ultimatum”.
"The above crimes against
civilization cannot go unpunished. Unless, therefore, the following orders are
obeyed without fail by 06.00 hours on 10th November at the latest, I shall
enforce them with all the sea, land and air forces at my disposal, and those
Indonesians who have failed my orders will be solely responsible for the
bloodshed which must inevitably ensue.
("Kejahatan terhadap
peradaban tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kecuali, apabila, perintah
berikut ini dipatuhi tanpa syarat paling lambat pada pukul 06.00 tanggal 10
November, saya akan mengerahkan seluruh kekuatan pasukan laut, darat dan udara,
dan orang-orang Indonesia yang telah gagal memenuhi perintah saya ini akan
bertanggung jawab sepenuhnya atas pertumpahan darah yang mau tidak mau harus
terjadi.") .
Memerintahkan seluruh pimpinan dan orang-orang Indonesia bersenjata
untuk melapor, segera menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas
(sebagai tanda menyerah) dan meletakkan senjatanya di tempat yang telah
ditentukan. Namun hingga batas pukul 06.00 WIB tanggal 10 November 1945 sama
sekali tak diindahkan para pejuang Indonesia. Karena ultimatum
dinilai sebagai penghinaan terhadap perjuangan rakyat.
Dimana Republik Indonesia (RI) sudah berdiri, merdeka dan memiliki
berbagai perangkat negara/pemerintahan. Sudah dibentuk Tentara Keamanan Rakyat
(TKR) dan berbagai organisasi perjuangan rakyat, dari kalangan pemuda,
mahasiswa dan pelajar. Menentang keras kembalinya kolonialisme Belanda ke
Indonesia.
Puncaknya pada pagi hari pukul 10.00 WIB tentara Inggris yang
berkekuatan sekitar 30.000 serdadu, 50 pesawat terbang dan sejumlah kapal
perang mulai melancarkan serangan besar-besaran. Hujan serangan melanda kota
Surabaya. Ribuan penduduk sipil menjadi korban (meninggal dan
luka-luka). Tetapi, perlawanan para pejuang Indonesia yang didukung seluruh
rakyat tetap berkobar di kota Surabaya, Jawa Timur. Semula Inggris merasa
beroptimisme bahwa perlawanan rakyat Indonesia bisa ditaklukkan dalam waktu
singkat. Namun di luar dugaan Inggris, ternyata para tokoh masyarakat
terdiri dari kalangan ulama serta para Kyai Pondok Jawa, secara maksimal
mengerahkan seluruh santri bersama rakyat, termasuk pelopor muda Bung
Tomo untuk berjuang memerangi tentara Inggris hingga titik darah
penghabisan kendati hanya berbekal senjata “bamboe roentjing”. Perlawanan
rakyat yang awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, namun
semakin hari semakin terarah dan terideologis. Pertempuran berlangsung hingga
lebih dari tiga minggu sampa satu bulan lamanya sebelum akhirnya Surabaya jatuh
ke tangan Inggris. Korban yang tewas diperkirakan antara 6000 sampai 16.000
dari pihak Indonesia. Nyatanya peristiwa berdarah tersebut memotivasi semangat
kebangsaan dan menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk
mengusir penjajah dari bumi pertiwi guna mempertahankan kedaulatan
RI.
Setahun kemudian, 31 Oktober 1946 terbitlah penetapan pemerintah No. 9
Um/1946 yang meresmika hari itu 10 November sebagai hari pahlawan. PP tersebut
ditandatangani oleh presiden Soekarno dan Menteri Pertahanan, Amir
Sjarifoeddin. Namun adapula yang berpendapat bahwa penetapan hari pahlawan di
lakukan oleh presiden Soekarno pada 1950. Banyaknya rakyat dan para pejuang
Indonesia yang gugur di medan juang hingga menjadi korban, meninggal maupun
luka-luka yang menjadikan Peristiwa 10 Nopember 1945 dikenang sebagai : “Hari
Pahlawan”.
lantas bagaimana perjuanganmu kini???
Pendidikan telah melahirkan pengetahuan, bahasa, dan
tulisan. Hal itu telah melahirkan kesadaran baru bagi bumiputera yakni “kemodernan”
dan “kebebasan”. Di belahan dunia lain, gerakan pembebasan nasional dan gerakan
kaum muda bangkit. Gerakan nasionalis bergolak di Tiongkok menumbangkan dinasti
Ch’ing pada oktober 1911. di Turki juga muncul gerakan nasionalis oleh kaum
muda dan pengaruh dari revolusi Rusia 1905. Berita-berita tersebut telah
memberikan pengaruh kepada kebangkitan gerakan nasionalis di dalam negeri.
Muncullah Serikat Dagang Islam (SDI) yang kemudian berubah menjadi Serikat
Islam (SI). Sementara itu, di Bandung pada 6 September 1912 dua mahasiswa
lulusan Stovia, Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat serta seorang
Indo, E.F.E. Douwes Dekker, mendirikan Partai Hindia atau Indishe Partij (IP). Tidak
ketinggalan, mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negeri Belanda antara bulan
Januari-Pebruari 1925 mendirikan Perhimpunan Indonesia (PI)—organisasi ini
merupakan kelanjutan dari Indsche
Vereeniging. PI sangat dipengaruhi oleh ideologi marxisme yang sedang
naik daun di Eropa dan juga banyak melakukan diskusi-diskusi dengan tokoh-tokoh
komunis Indonesia seperti Semaun.
Pegerakan mahasiswa sangatlah gencar berdasarkan historis
terdahulu, namun lambat laun perjuangan kian meredup. Hal ini tertampak paska
orde baru, gerakan ditahun 1978 merupakan akhir dari apa yang disebut “keistimewaan”
terhadap mobilisasi mahasiswa. Soeharto benar-benar tidak bisa mentolerir lagi
gerakan-gerakan yang dibuat mahasiswa, termasuk yang berbau “moral force”.
Dewan Mahasiswa (DEMA) dibubarkan, semua kegiatan kemahasiswa yang berbau
politik dilarang. Kebijakan ini diatur dalam Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) yang diserap dari konsep Ali
Moertopo tentang “massa mengambang”.
Perguruan tinggi dirombak menjadi sebuah institusi yang hanya menempa mahasiswa
menjadi Tenaga kerja murah dan pengabdi rejim Orde baru. pola-pola indoktrinasi
diperkenalkan, seperti penataran P4, mata-kuliah, dan lain-lain. Untuk waktu
yang cukup lama, kehidupan kampus dikontrol oleh KOPKAMTIB.
Melihat gejala ekonomi politik saat ini, kapitalisme
telah berkembang biak menjadi imprealisme. Investasi asing berwatak akumulai, ekspansi
dan eksploitasi terjadi. Dimana keadaan ini merugikan massa rakyat. Tidak ada
kecenderungan penguatan kedaulatan rakyat. Dalam hal ini posisi rakyat
dijadikan pasar dan konsumen sejati. Kita menjadi penonton di negeri sendiri. Bercermin pada masa lampau, pada prinsipnya penjajahan
diatas dunia merupakan penindasan struktural melalui dominasi kaum dan l’exploitation de l’homme par l’homme (eksploitasi
manusia diatas manusia). Dari penjuru dunia, kita masih mendengar kabar tangis
lapar, tertindas, tercekik dan terbunuh. Masih banyak kaum-kaum termarjinalkan
baik dari buruh, kaum tani, nelayan hingga kaum miskin kota. Bukti dari masih
adanya penjajahan diatas bumi adalah masih banyak penggangguran, degradasi
lingkungan, kemiskinan, perang dan ketidaksetaraan.
Suara-suara lantang pro perjuangan dibiaskan secara
halus, pengkondisian gerakan telah menciptakan gerakan-gerakan yang sebatas
memenuhi kepentingan segelintir semata. Adapun permasalahan atau penjajahan
gaya baru (neokolonialisme) ini menjadi terlihat sebagai hal lumrah dan bukan
lagi menjadi kewajiban pemuda pemudi untuk melakukan perlawanan terhadapnya. Terjadi
pergeseran makna Hari Pahlawan sebatas ceremony penghormatan dengan wajib
menyanyikan lagu Mengheningkan Cipta 45 menit, tanpa kita menyadari betul apa
yang dapat kita tarik dari momentum perjuangan pahlawan tersebut yaitu “Memerdekakan
Manusia dan Bangsa”.
Dijaman yang kian modern ini, penjajahan bukanlah lagi
dengan senjata sebagai mana para pahlawan kita terdahulu, penjajahan kini lebih
mengarah kepada penghisapan manusia diatas manusia. Kita cermati bersama, perkebunan-perkebunan raksasa tidaklah dimiliki dan
digarap dengan cara paksa layaknya jaman feodalisme?? Penjajahan gaya
baru menyusup diam-diam dan menindas secara struktural. Ini tercermin dari habisnya lahan-lahan pertanian dan perkebunan yang masif
tergeser oleh industrial untuk pabrikasi dan sektor-sektor kapital lainnya,
seperti perbankan, asuransi, hotel dan lainnya. Tanpa disadari imprealisme
modern meraup habis dengan berlandaskan faktor ekonomi produksi. Hak-hak rakyat
seakan-akan ditegakkan, namun dalam essensinya bumi, air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalam bumi kita tetaplah menjadi basis kepentingan para kapital.
Inilah penjajahan gaya baru yaitu neoliberalisme. Penjajahan gaya baru dirasakan
secara ekonomi-politik, sosial dan budaya sehingga mengkondisikan berbagai
elemnen kehidupan massa rakyat.
Segala bentuk penindasan yang dialami setelah bangsa
Indonesia merdeka, dan juga setelah bangsa-bangsa lain, merupakan agenda
neoliberalisme, hal inilah yang oleh Soekarno dinyatakan sebagai
neokolonialisme-imperialisme (nekolim). Penghisapan “ekonomi-politik” semacam
inilah yang juga secara faktual dialami di Indonesia, dan juga di negara-negara
lainnya yang secara geografisnya kaya akan bumi, air dan kekayaan alam
terkandung di dalamnya.
Sistem
ekonomi-politik paska reformasi bukannya membaik, malahan semakin membuka diri
terhadap kepentingan opensif modal asing. Jika di masa orde baru, eksploitasi
berlansung dengan sistem politik otoriter yang dilakukan oleh rejim orde baru
beserta kroni dengan bergandengan dengan modal asing. Maka dimasa sekarang,
eksploitasi dilakukan sepenuhnya dilakukan oleh kapital internasional dengan
memanfaatkan beberapa elit politik didalam negeri. inilah yang kami sebutkan
sebagai imperialisme, sebagai problem pokok perjuangan rakyat Indonesia.
Maka
dari segala problematika masyarakat Indonesia, inilah lapangan perjuangan baru
bagi gerakan mahasiswa. Terlepas dari begitu banyak persoalan yang muncul
setiap hari, tetapi karakter pokok dari perjuangan mahasiswa haruslah
anti-imperialisme. Ada kemajuan-kemajuan kecil dari segi gerakan, seperti
tumbuh dan berkembangnya aksi massa dan metode-metode perlawanan rakyat, dalam
hal program dan tuntuan sudah semakin maju meski belum utuh yakni
anti-neoliberalisme. Kemajuan-kemajuan ini merupakan dasar-dasar yang bersifat
maju, yang dapat diakumulasikan, guna memberikan arah perjuangan yang lebih
maju dimasa depan. Berhadapan dengan situasi baru, gerakan mahasiswa tidak
boleh kaku dalam menerapkan taktik-taktik dan metode perjuangan.
Peluang-peluang dari perjuangan parlementer harus dimanfaatkan (bahkan bisa
menjadi wajib) dalam situasi tertentu guna mengakumulasi sentimen
anti-imperialis dan anti-neoliberal, serta memunculkan kekuatan politik
alternatif. Dunia terus berubah, situasi terus bergerak, serta kita dituntut
menyesuaikan hal itu dengan penemuan taktik-taktik dan metode-metode baru. Masihkan
kita justru terjebak pengkondisian kapitalisme? Mari keluar bersama dan tetap
berani di garis perjuangan terdepan dengan analisis yang matang. Mahasiswa adalah
agent of change and agent of control!! Sekali lagi, hari pahlawan bukan lah
ceremony belaka, momentum sesaat, namun member suntikan untuk tetap konsisten
dengan pisau analissi yang matang, langkah gerakan yang terukur berbalut
semangat progresif revolusioner.
Untuk memperbaiki
pekerjaan massa daripada organisasi yang bersifat progresif revolusioner, kita
senantiasa mengkombinasi pekerjaan berkobar-kobar dengan pekerjaan tekun. Namun,
perlu disadari pula, ide-ide revolusi tak hanya sebatas bagaimana keberanian
segelintir orang dengan toa, agitasi selebaran dan aksi massa berhadapatan
dengan struktur rejim yang sangat massif, sebatas merespon momentum yang cepat.
Dan kita pun harus menyadari sektarianise kiri adalah penyakit yang menghambat
kemajuan gerakan revolusioner karena bersandar pada prangsangka subjektif tanpa
adanya upaya membangun kritik dan perdebatan yang demokratis untuk persatuan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar