Mari kita Mengubur
Heroisme—Advonturisme
Heroisme adalah
sebuah paham yang mengagung-agungkan kepahlawanan individu atau kelompok,
menonjolkan kemanpuan individu-kelompok sebagai penentu sebuah perubahan. Jika
diteliti dalam sejarah faham ini sudah ada sejak klas-klas juga sudah mulai
muncul, pada saat itu klas berkuasa begitu mengagung-agungkan ksatria-isme
sebagai sikap—mentalitas seorang lelaki pemberani dan tangguh—rela mengorbankan
jiwa raganya demi kehormatan bangsanya-negaranya. Sedangkan disisi lain
penindasan dan kekerasan yang dijalankan oleh klas berkuasa menimbulkan
resistensi dari klas tertindas, akan tetapi karena power klas berkuasa begitu
maha-kuat sehingga hanya segelintir atau beberapa orang dari klas tertindas
menampakkan keberaniannya bertindak sebagai pembela klas tertindas, dari
sinilah heroisme dalam bentuk yang kedua muncul; buah perjuangan klas. Ini
adalah dua sisi heroisme muncul dan menampakkan dirinya dalam praktek perubahan
sosial di masa lalu. Masa-masa kejayaan romawi banyak membangkitkan kesadaran
seperti ini dalam adegan2 gladiator. Namun dalam diskusi kita kali ini, apakah
heroisme seperti ini yang kita maksudkan, karena ada banyak terminology dalam
gerakan kiri tentang karakter gerakan seperti ini; advonturir, kiri kekanak-kanakan,
juga ada istilah ultra-kiri/ektrim kiri.
Sebelum tradisi
revolusioner [baca; Marxisme] mengambil peran dominan dalam praktek perubahan
sosial dengan konsep perjuangan klasnya, pengorganisasian massa rakyat,
organisasi revolusioner, teori-teori revolusionernya tradisi heroisme cukup
banyak mempengaruhi gerakan. Blanquisme misalnya; sebuah pandangan bahwa untuk
menghancurkan system penghisapan kapitalisme cukup dengan metode konspirasional
dari lelaki dan perempuan yang berani, dengan kekerasan-teror terhadap pihak
borjuis. Pandangan ini sepenuhnya mengabaikan peranan massa rakyat sebagai
kekuatan pokok yang menentukan, pandangan seperti ini juga banyak dianut kaum
anarkis seperti Weitling, Bakunin, dan Proudhon. Di rusia sebelum Marx
berkembang aliran Narodnidisme dan sosialis revolusioner sebagai partainya yang
menjadi pengikut setia jalan advonturisme. Lenin—bahkan Plekhanov[sebelum
menjadi oportunis] sering ber-polemik dengan mereka terutama pandangan2nya yang
sangat mengabaikan pandangan sosialisme ilmiah tentang perjuangan klas.
Lenin dalam hampir
semua tulisan-tulisannya sangat meneguhkan tugas gerakan revolusioner untuk
mengorganisasikan perjuangan klas, perebutan kekuasaan dan mengorganisasikan
masyarakat sosialisme. Dominasi klas borjuis di kukuhkan dengan berbagai
instrumennya; lewat alat-alat represifitas; negara—polisi-militer, hukum,
lembaga peradilan, atau alat penundukan secara ideologis; agama, media, lembaga
pendidikan, demokrasi liberal, civil society, dsb. Terkadang, dalam mengahadapi
dominasi yang amat kuat tersebut, klas tertindas mengalami demoralisasi,
pasifis, dan ektremnya menerima situasi tersebut secara sukarela. Penaklukan
ideologis adalah selimut tebal yang menghalangi massa rakyat menemukan kesadaran
sejati, untuk membukanya butuh perjuangan ideologis; agitasi-proganda,
pendidikan massa, kursus politik, aksi massa, rapat akbar, kesenian dan lain
sebagainya.
Heroisme juga banyak
menjangkiti gerakan revolusioner termasuk yang menggunakan label ”Partai
Komunis”, dalam kritiknya terhadap sayap kiri partai komunis Jerman yang di
pimpin Rosa Luxemburg dan Karl Liebnecht, Lenin menganggap sikap tersebut
sebagai kiri kekanak-kanakan atau dalam terminology sekarang sering disebut
ultra-kiri. Sayap kiri partai komunis Jerman yang keluar dari SPD menganggap bahwa taktik parlemen sebagai sesuatu yang basi
untuk dipraktekkan di negeri seperti Jerman. Bagi Lenin, bagaimana mungkin
menganggap parlemen di Jerman sebagai sesuatu yang usang/basi sedangkan
kesadaran massa luas masih sangat parlementaris—menganggap mekanisme demokrasi
parlemen borjuis sebagai representasi kepentingan mereka—juga disisi lain
kekuasaan soviet sebagai bentuk baru dari mekanisme demokrasi sosialis belum
terbentuk. Lenin menunjukkan perjuangan partai bolshevik di bawah situasi suhu
revolusioner menurun dan masa referesi stoplin yang banyak menimbulkan pukulan
bagi gerakan revolusioner. Partai bolshevik mampu mendemonstrasikan taktik
parlementarisme sebagai alat untuk membangkitkan kembali kesadaran revolusioner
massa, sekaligus pendidikan politik bagi massa. Hingga terjadi peristiwa sungai
lena yang membangkitkan kembali gerakan revolusioner seluruh Rusia.
Bagaiamana dengan
Indonesia?
Gerakan revolusioner
di indonesia banyak di inspirasikan oleh klas menengah khususnya kaum
intelektual[ dan terutama lagi kaum muda], signifikansinya adalah pembawaan
psikologis kaum muda yang temperamental—berkobar-kobar terkadang
termanifestasikan juga dalam model gerakannya; heroisme dan advonturisme.
Pemberontakan 1926-1927 yang gagal di kategorikan
sebagai salah satu tindakan advonturisme pimpinan PKI yang memutuskan untuk
berontak ditengah situasi organisasi dan dukungan massa yang belum meluas.
Penghancuran gerakan kiri di indonesia tahun 1965-1967 sedikit banyak telah
memutus tradisi kiri di indonesia sehingga kebangkitan gerakan
progressif-revolusioner akhir 80-an dan awal 90an lahirnya dari study-study
Club di kampus yang rata-rata klas menengah kebawah. Gerakan kiri yang muncul
ini adalah hasil perburuan dalam ruang-ruang diskusi, terbitan gelap, dan
bacaan2 dari luar negeri yang di translated ke dalam bahasa indonesia.
Teori-teori ini yang kemudian di-demontrasikan oleh kaum muda progressif di
tengah-tengah massa yang ditindas orde baru—pengalaman kedung ombo, penyerbuan
kampus dan lain sebagainya—pendeknya situasi kediktatoran.
Perjuangan
mahasiswa-rakyat tahun 1998 berhasil menjatuhkan soeharto, meskipun kemudian
tidak manpu mendesakkan perubahan yang betul-betul radikal namun telah berhasil
mendorong pembukaan ruang-ruang demokrasi; kebebasan pers, pemilu multi partai,
dsb. Revolusi demokratik yang tidak tuntas itu setidaknya telah merubah
struktur politik kapitalisme indonesia dari otoritarianisme orba menjadi
sedikit reformis walaupun dalam batasan-batasan demokrasi borjuis yang semu.
Demokrasi borjuis menjadi tantangan baru bagi kaum gerakan, dengan kanalisasi
aspirasi/dan partisipasi politik sehingga segala bentuk kecenderungan/gejolak
politik massa akibat liberalisasi ekonomi yang sangat agressif mampu di
kanalisasi dalam kerangkeng demokrasi borjuis-liberal saat ini.
Dorongan inovasi
demokrasi liberal borjuis ini semakin dipermak di bawah kekuasaan SBY-Boediono;
dengan metode pemilihan langsung [direct election] seperti pemilihan
presiden langsung, pemilihan kepala daerah langsung, pemilihan kepala desa langsung,
dan lain sebagainya. Ini yang kurang disadari oleh
unsur-unsur gerakan rakyat khususnya gerakan mahasiswa, sehingga tidak mampu
menyiasati situasi perubahan tersebut. Secara umum gerakan revolusioner dalam
melihat situasi tersebut bisa disimpulkan sebagai berikut: [1] menganggap bahwa
imperialisme –neoliberal telah memiskinkan rakyat dengan serangkain paket
kebijakannya, dan mereka punya agen yang setia di Indonesia, [2] bahwa dominasi
imperialisme di indonesia di mungkinkan dan dikuatkan oleh kaki tangannya-antek
dalam hal ini borjuasi nasional yang di wakili oleh SBY-Boediono,[3] untuk
menghadapi imperialisme dan kolaboratornya dibutuhkan sebuah front
persatuan—front Nasional—front anti Imperialis[4] dalam membaca situasi yang
ada dan menurunkan dalam strategi-taktik perjuangan gerakan revolusioner
ter-fragmentasi.
Fragmentasi adalah
segi-segi positif dan negatif dalam gerakan revolusioner, hukum dialektika
perkembangan pun mengajarkan bahwa gerak[motion] hanya terjadi jika ada
segi-segi yang ber-kontradiksi. dianggap positif jika fragmentasi dalam hal
perbedaan strategi-taktik perjuangan, kesimpulan bacaan situasi ekonomi-politik
yang berkembang dan ada potensi untuk menyatukannya dalam sebuah perdebatan
yang demokratis dan ilmiah. Selanjutnya dianggap sangat negatif jika karena
sektarianisme organisasional dan eksklusifisme kemudian persatuan dalam unsur
gerakan rakyat tidak bisa terbangun. Sektarianisme yang kita maksudkan di sini
bukanlah kritik terhadap gerakan mahasiswa 1998-an karena itu sudah lewat dari
perdebatan kita tetapi sektarianisme dalam gerakan yang mengidentifikasi
dirinya—organisasinya k-i-r-i. Sektarianisme kiri adalah penyakit yang
menghambat kemajuan gerakan revolusioner karena bersandar pada pransangka
subjektif tanpa ada upaya membangun kritik-dan perdebatan yang demokratis untuk
persatuan.
Dalam pengalaman
gerakan revolusioner pasca 1998, banyak gerakan revolusioner yang masih
meng-haramkan taktik parlementarisme sebagai salah satu jalan untuk memperbesar
kekuatan, meluaskan propoganda ke massa dan bagi mereka taktik parlementarisme
sebagai revisionisme modern—remo, ada juga yang menyebutnya sebagai tindakan
fatalis karena sekedar copy paste terhadap metode elektoral di amerika latin.
Mereka melihat metode aksi massa atau ekstra-parlementary sebagai satu-satunya
alat-metode perjuangan yang sangat efektif menghadapi imperialisme, selain
penyebaran media-alat2 propganda;buletin, selebaran, newsletter, mural, dsb.
Momentum melahirkan radikalisme –diwadahi front—buat terbitan bagi kaum kiri
seperti ini sudah sangat efektif untuk menghadapi serangan imperialisme.
Dalam tulisannya
Roysepta Abimanyu menganggap pola-pola gerakan seperti ini sebagai metode kuno
yang sangat kaku, karena metode ini sudah berulang-ulang di praktekkan gerakan
kiri di Indonesia —-belum mampu mencari panggung lain untuk menarik perhatian
massa. Gerakan kiri harus menyadari bahwa medan
perjuangan saat ini bukan lagi dalam sebuah situasi kediktatoran di mana tidak
dimungkinkan perjuangan secara legal. Perkembangan masyarakat membuat
kekhususan dalam karakter ekonomi-politiknya, yang juga harus di sertai dengan
keluwesan mempratekkan teori-teori marxisme, bukan menjadikannya dogma. Dalam
wawancara dalam sebuah stasiun TV Alvian mallarangen menanggapi dengan enteng
gerakan cabut mandat yang di usung Hariman Cs sebagai sebuah mood politik yang
genit dan tidak akan mampu menjatuhkan pamor SBY-Jk dihadapan rakyat, belum
lagi kemanpuan mobilisasi Hariman Cs belum menyamai dengan dukungan suara yang
diperoleh SBY-JK dalam pemilu 2004. Bagi mallarangen mobilisasi massa ke istana
tidak akan membuat pemerintahan SBY-JK bergeming, karena mekanisme demokrasi
borjuis mensyaratkan proses pergantian kekuasaan pemilu sebagai jalur sah/legal
untuk menggantikan SBY-JK. Disinilah tantangan sebenanarnya, mampuhkah kita
memotong proses peolitik/pergantian kekuasaan dengan menjadikan buruh-tani
berkuasa dengan mengandalkan metode ekstra-perlementarisme sedangkan kesadaran
luas massa rakyat masih percaya dengan mekanisme demokrasi formal—pemilu. Tugas
pokok kita adalah bagaimana mengorganisasikan sebuah masyarakat sosial dengan
tatanan sosial yang adil secara ekonomi dan demokratik, dengan jalan melakukan
perebutan kekuasaan politik bagaimanapun caranya? Dengan kekerasan revolusioner
atau dengan cara-cara damai kupikir bukan substansi perdebatan, karena jalur
damai—parlemen—pun akan berkosekuensi kekerasan revolusioner karena hukumnya
tidak ada klas berkuasa/borjuis yang mau menyerahkan kekuasaannya begitu saja
secara damai. Pengalaman Allende chili, atau yang paling update pengalaman Hugo
Chaves di Venezuela dan Evo Morales di Bolivia, ketika pemerintahan
revolusioner ini semakin bergerak pada proses revolusi sosialis maka tantangan dari
sayap kanan pun semakin kuat.
Disinilah problem
pokoknya; bagaimana melakukan perebutan kekuasaan politik, menpraktekkan proyek
sosialisme sejati, dan memperbesar dukungan untuk mempertahan proses revolusi
seperti kata-kata Che Guevara” tugas paling berat bagi kaum revolusioner
sesungguhnya adalah mempertahan revolusi”. Proses mempertahankan revolusi
merupakan sintesa dari program-program yang telah kita progandakan kemassa—dan
bersama-sama dengan massa kita akan mempraktekkan dan mewujudkannya; masyarakat
sosialis.
Inilah yang tidak
pernah dipahami oleh kaum advonturir—kaum herois di Indonesia yang tetap gigih
dengan ketololannya—dan kedogmatisannya dalam memahami dan mempraktekkan
Marxisme di Indonesia. Selalu menganggap ide-ide revolusi hanya sebatas
bagaimana keberanian segelintir orang dengan meghapone/toa –plus selebaran kalo
ada, melakukan aksi berhadapan dengan sturktur proganda rejim yang sangat
massif. Bagi mereka cukup puas ketika mereka latah merespon momentum—dinamika
politik yang cepat—yang sebenarnya sudah di buat dalam batasan-batasan yang
tidak mengganggu kekuasaan. Advonturisme tidak bisa dikategorikan sebagai
gerakan Marxisme, karena marxisme bersumber pada sosialisme ilmiah, filsafat
materialisme dialektis, perjuangan klas dan yang terpenting menurutku
menempatkan marxisme sebagai penuntun praktek revolusioner bukan sebagai
dogmatisme.
Apa output dari
gerakan seperti ini? dalam praktek memang mereka terlihat sangat
radikal-militan tetapi karena struktur politik gerakannya sangat rapuh dan
kondisi internal sangat lemah; kaderisasi, penggalian dana secara independen,
distribusi alat-alat propoganda,dsb. Maka tidak jarang mereka sangat bergantung
pada politik Kei—broker atau sedikit halus dengan memanfaatkan LSM/NGO untuk
sumber pendanaan mereka.
Heroisme adalah satu
sisi dengan advonturisme, masih saudara kembar dengan ultra-kiri, dan satu
rumpun dengan kiri-kekanak-kanakan. Semua kecenderungan seperti ini sebenarnya
berasal dari dominasi klas borjuis kecil dalam sebuah organisasi revolusioner
yang kurang mempertimbangkan kesadaran dan keterlibatan massa dalam perjuangan
revolusioner. Mereka juga menekankan pengorganisiran dan menyerukan
aktivis-aktivisnya ke basis-basis massa tetapi impresinya adalah menjadi
pahlawan di tengah massa, hampir sama dengan yang ditempuh LSM betindak sebagai
hero yang mengadvokasi –dan memberdayakan rakyat tetapi tidak punya itikad baik
untuk mendorong maju kesadaran massa menjadi revolusioner.
mereka sendiri
menuduh kami likuidator kanan, dan mereka terus berjalan dengan logika
dikepalanya dengan menafikan situasi objektif sehingga mereka ini bisa juga di
kategorikan likuidator kiri. Tuduhan yang mereka berikan sebenarnya sangat
tidak ilmiah-dan demokratis justru mereka –lah yang telah menjadi pengikut
setia stalinisme baik dalam lapangan politik maupun dalam lapangan organisasi.
Dalam pandangan Mao;
bahwa dalam posisi menghadapi imperialisme maka setidaknya semua gerakan kiri-
mengambil posisi menyokong POLITIK anti imperialisme, mengambil posisi
berseberangan berarti melemahkan politik anti imperialis dan memperbesar
KEKUATAN MUSUH. Berikut pandangan Lenin dalam dua taktik sosial-demokrat dalam
revolusi demokratik untuk memerangi heroisme dan petualangisme;
Pemikiran yang absurd ini mempesingkat baik teori Narodnik yang menyatakan
bahwa sebuah revolusi borjuis berjalan berlawanan pada kepentingan-kepentingan
dari proletariat, dan bahwa karenanya, kita tidak membutuhkan kebebasan politik
borjuis; atau pada anarkisme yang menolak setiap pertisipasi proletariat dalam
politik borjuis, dalam sebuah revolusi borjuis dan dalam parlementarisme
borjuis. Dari sudut pandang teori pemikiran ini tidak menghargai
proposisi-proposisi elementer dari Marxisme yang memperhatikan dari keniscayaan
dari perkembangan kapitalisme di atas basis produksi komoditi. Marxisme
mengajarkan kepada kita bahwa pada satu tahap tertentu dari perkemangannya
sebuah masyarakat yang berbasis diatas produksi komoditi dan telah berhubungn
dagang dengan bangsa-bangsa kapitalis beradab pasti harus mengambil jalan
kapitalisme. Marxisme telah pecah dengan kaum Narodnik dan kaum anarkis yang
mengacu bahwa Rusia, misalnya, dapat melewati perkembangan kapitalisme, dalam
artian melepaskan diri dari kapitalisme, atau menyingkirkannya dengan yang lain
daripada perjuangan klas, di atas dan di dalam kerangka kerja kapitalisme yang
sama.
-selamat berjuang—–
Tidak ada komentar:
Posting Komentar